Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan

30 Desember 2016

Kompilasi Komik

Kompilasi Komik Siluman Kucing (2016). Kompilasi Komik Sepanel Tiga Hati (2015)
Penerbit Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta

Saya baru tau dari seorang kawan tentang komik ini yang ngga sengaja dia beli di stan IKJ sewaktu acara PopCon 2016. Saya jadi ingin ikutan baca tapi bingung belinya di mana. Akhirnya saya coba hubungi Ardie, teman semasa kuliah yang saat ini menjadi pengajar ilustrasi di IKJ, buat pesan komiknya. Eh, tau-tau komiknya udah dateng aja kemarin, padahal saya belum bayar. Hahaha. Tenang, sekarang udah lunas, kok. Terima kasih ya, Die! ^_^

Komik terbitan FSR-IKJ ini merupakan karya terpilih yang dibikin oleh mahasiswa Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta, saat mengikuti perkuliahan Sequential Art. Mata kuliah ini diwajibkan bagi mahasiswa DKV yang mengambil peminatan ilustrasi. Menurut penjelasan dalam buku ini, tugas membuat komik tidak hanya menggambar komik saja tetapi melatih kemampuan menyampaikan maksud dan tujuan dengan baik. Sayangnya di zaman saya kuliah, beluma ada mata kuliah Sequential Art, namun ada Sekte Komik, semacam perkumpulan mahasiswa IKJ yang gemar bikin komik.

Senang bisa melihat karya akhir tugas kuliah adik-adik kelas dalam bentuk buku kompilasi komik ini. Temanya menarik, gaya gambarnya pun beragam. Kompilasi komik Sepanel Tiga Hati mengisahkan suasana di kampus IKJ dan kawasan sekitarnya dari sudut pandang mahasiswa, yang berhasil bikin saya kangen kampus. Kangen ngerjain tugas kuliah. Kangen dosen-dosen saya. Kangen Planetarium. Huhuhu. Saya sengaja baca komiknya sedikit-sedikit supaya ngga cepat habis. Hahaha. Semoga proyek kompilasi komik ini terus berjalan agar menambah keberagaman komik Indonesia dan dapat dijadikan koleksi bagi pencinta komik.

10 Desember 2016

Teman Kuliah Lama Tak Bersua

Tau dah nih si Troy gambar apaan?! Hahahaha

Kamis sore kemarin saya janjian bertemu dengan teman kuliah. Kebetulan hari itu dia ada kerjaan di dekat tempat saya tinggal. Namanya Troy. Dulu kami satu studio di kampus. Terakhir saya bertemu Troy sekitar tahun 2005 di perusahaan penerbit buku di Jakarta Timur. Wajah dan logat bicaranya masih sama seperti dulu. Cuma sekarang dia sudah ngga pakai kacamata, rambutnya sudah ngga gondrong, dan lebih ganteng. Uhuy. Sekilas mirip Yoris Sebastian. Zaman kuliah, teman-teman menyebutnya si "tangan printer", karena gambar yang dia hasilkan sangat halus dan tajam bagai hasil cetakan mesin. Ketika saya bilang begitu, dia ketawa ngakak. Dia pun masih ingat nama julukan yang diberikan teman-teman buat saya. Gantian, saya yang ketawa ngakak. Kami duduk-duduk sambil ngobrol di Sevel, tepat di seberang lokasi proyek mural yang sedang dia garap bersama seorang teman kerjanya. Sore itu kami banyak ketawa. Troy orangnya lucu padahal waktu kuliah dia pendiem banget. Saya antusias menyimak cerita kegiatannya mengajar dan usahanya melukis mural & graffiti, serta kabar teman-teman lain dari cerita-ceritanya Troy. Kabar yang paling bikin saya senang adalah masih ada beberapa teman kuliah seangkatan (termasuk Troy) yang sampai saat ini konsisten menekuni dunia seni rupa. Mereka terus menggambar dan berkarya walau gaungnya terdengar sayup-sayup. Mendengar kabar ini saya terpacu untuk terus menggambar. Terima kasih Troy buat ajakan ketemuan dan obrolannya kemarin yang penuh inspirasi. Salam buat Donny. Hahaha. Semangat terus!!

18 Januari 2015

Kisah di Balik Julukan


Pasti beberapa orang punya nama julukan yang diberikan keluarga atau teman-teman dekatnya. Biasanya julukan diberikan sehubungan dengan keistimewaannya, ciri fisik, watak, pekerjaan, tempat/asal, dll. Salah satu tujuannya supaya mudah diingat dan dikenali. Mulai SMP sampai kuliah saya punya beberapa nama julukan dari teman-teman saya. Entah kenapa julukan saya itu hampir semuanya serupa.

Saya senang mengamati segala sesuatu, sedikit pemalu, dan agak pendiam. Meski begitu, saya suka sekali tersenyum. Saya suka merespons cerita-cerita teman dengan senyuman. Nah, mungkin karena keseringan senyum itu teman-teman saya memberi julukan buat saya. Padahal senyuman saya biasa-biasa saja. :P

Waktu kelas 3 SMP, teman-teman sekelas menyebut saya si 'Smiling Face'. Lalu, SMA saya dijuluki 'Smiley Dian' oleh teman-teman dekat di kelas karena saya hobi sekali senyum. Pernah, suatu hari senyuman saya membawa petaka. Saya dimarahi guru Matematika di kelas karena senyum-senyum. Kalau ingat kejadian zaman kelas 3 SMA itu saya suka ketawa sendiri. Ini gara-gara teman sebangku bercanda pas pelajaran Matematika Dasar. Teman sebangku saya ini orangnya senang sekali bercanda, padahal waktu itu saya lagi konsentrasi corat-coret di buku catatan sambil memperhatikan pelajaran Matematika yang sedang diterangkan Ibu Nesty di papan tulis. Lupa teman saya itu ngomong apa, saya senyum-senyum dengar candaannya sambil melihat ke papan tulis, dan ngga sengaja saya bertatapan dengan Bu Nesty yang masih serius menerangkan pelajaran di depan kelas. Langsung saat itu juga saya dimarahi Bu Nesty. "Ngapain kamu senyum-senyum?! Ada yang lucu?" tanya Bu Nesty. "Ngga, Bu," jawab saya salah tingkah. "Berarti kamu smiling face banget, ya?!" balas Bu Nesty. Akhirnya, satu kelas menjuluki saya Smiley Dian. Sejak kejadian itu, saya mulai senyum pada waktu dan situasi yang tepat. Hahahaha.

Lain lagi cerita waktu kuliah. Saat Pendidikan Dasar Seni Rupa (PDSR), semester awal kuliah, nama panggilan Dian lumayan banyak di kelas. Belum lagi ada yang namanya Yayan dan Ian. Kalau ada yang manggil "Yan", semuanya pasti nengok. Hahaha. Seingat saya ada tiga orang yang punya nama panggilan Dian, termasuk saya. Muncullah julukan yang diberikan teman-teman kampus untuk membedakan kami bertiga. Dian pertama, dijuluki 'Dian Rosalinda' karena gayanya chic dengan rambut panjangnya yang kecokelatan dan bergelombang. Mirip aktris telenovela Rosalinda yang hits pada masanya. Dian kedua, dijuluki 'Dian Batik' karena dia suka sekali pakai baju kaus dipadukan dengan rok batik. Motif batiknya cantik-cantik. Dia juga suka memakai kalung dan gelang-gelang etnik. Dian terakhir (saya), dijuluki 'Dian Biasa' karena penampilan saya biasa saja. Saya senang pakai kaus dan celana jeans, tas ransel, sepatu kets (kadang sandal jepit) ke kampus. Biasa bangetlah pokoknya. :P

Masuk tahun kedua kuliah, mulai penjurusan studio. Dian Rosalinda masuk program studi Kriya Tekstil, julukannya pun berubah jadi 'Dian Tekstil'. Sedangkan Dian Batik melanjutkan kuliahnya di kampus lain. Dan saya masuk program studi Desain Komunikasi Visual, belum ada julukan baru buat saya ketika itu. Namun, entah siapa yang mulai duluan, tiba-tiba teman-teman satu angkatan kompak memanggil saya dengan sebutan 'Dian Senyum'. Mungkin selama di kampus saya lebih banyak senyumnya daripada ngomongnya. Tapi menurut salah satu teman baik saya sewaktu kuliah, katanya saya ngga punya ekspresi lain selain senyum. Hahahaha. Sampai tahun terakhir kuliah pun sebutan Dian Senyum masih melekat pada diri saya. Karena itulah saya selalu mencantumkan dian 'senyum' sebagai artist signature di setiap karya gambar untuk terus mengingat teman-teman kampus saya yang superkreatif. :))

22 September 2014

Selamat Jalan, Pak Priyanto Sunarto (1947 - 2014)

Saya mulai mengenal dan bertemu Pak Pri pertama kali sewaktu semester akhir, mata kuliah Desain Komunikasi Visual V. Kala itu beliau menjadi dosen tamu di FSRD IKJ untuk memberi materi kuliah tahap-tahap membuat Tugas Akhir, baik berupa karya maupun skripsi. Sebelumnya saya sudah tahu nama beliau dan mengenal karya-karya kartunnya, yang biasa mencantumkan Pri-S di setiap gambarnya, lewat majalah TEMPO.

Ketika itu saya memilih skripsi sebagai Tugas Akhir, dan Pak Pri terpilih sebagai dosen pembimbing saya. Saya pikir bakal sulit asistensi ke Pak Pri karena beliau dosen tamu, tinggal di Bandung, cuma satu-dua minggu sekali datang memberi materi kuliah di kampus. Tidak bisa setiap saat bertemu beliau untuk berdiskusi soal TA. Akhirnya, kami (Pak Pri dan saya) sepakat untuk membahas proposal skripsi lewat email tiap minggu. Rintangan paling berat pada saat saya tengah menyusun skripsi adalah Papa saya meninggal karena penyakit yang sudah lama dideritanya. Tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan, saya terus lanjut menyusun skripsi supaya bisa lulus tepat waktu. Koreksi dan masukan di setiap bab oleh Pak Pri selalu saya tunggu di warnet dekat rumah. Sekali waktu saya sempatkan berkunjung naik kereta ke FSRD ITB bertemu beliau untuk asistensi. Meski hanya sebentar diajar dan dibimbing oleh Pak Pri, kenangannya sangat membekas buat saya. Beliau bukan hanya seorang guru tapi juga bapak sekaligus kawan bagi anak-anak didiknya. Beliau pun pribadi yang bersahaja, baik, dan lucu suka bercanda. 

Setelah dinyatakan lulus oleh para penguji sidang, saya jarang datang ke kampus lagi karena kesibukan. Sesekali ke kampus jika memang ada hal penting yang harus diurus di sana. Namun, saya berusaha terus menjalin silaturahmi dengan beberapa dosen saya. Bila hari raya atau pergantian tahun tiba, saya suka mengirim SMS ucapan selamat ke teman, saudara, dan guru. Ada satu balasan SMS dari Pak Pri yang masih saya simpan sampai sekarang (rasanya sayang untuk dihapus) di kotak masuk telepon genggam butut saya. "makasih Dian, sama2 maaf lahir batin dan slmat idul fitri 1431h, smoga memperoleh berkah berlimpah, ttp semangat n kreatif ya, amin wassalam_kel. priyanto-s (13/09/2010)". Hari Raya Idul Fitri tahun 2013 pun beliau masih sempat membalas SMS ucapan selamat Lebaran dari saya dengan, "masih menggambar kan?"

Hingga suatu hari, sekitar bulan Juli, tidak sengaja saya membaca kicauan seseorang di media sosial. Pak Pri S dosen FSRD ITB, butuh darah A, RS. Borromeus - Bandung, dikarenakan kondisi kesehatannya menurun. Saya hanya bisa bantu doa, berharap beliau baik-baik saja dan bisa lekas pulih. Selang beberapa bulan kemudian saya kembali mendapati kicauan berita duka wafatnya Bapak Priyanto Sunarto, dosen ITB dan kartunis TEMPO, di Bandung (Rabu, 17 September 2014). Saya benar-benar sedih. Sakali lagi, saya hanya bisa mengirimkan doa. Semoga seluruh amal ibadah baik beliau semasa hidupnya diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan selalu diberi ketabahan. Amin.

"Menggambar, terus menggambar, selalu menggambar." Selamat jalan, Pak Pri. Terima kasih banyak atas pengabdian, ilmu serta karyamu. Kini Bapak bisa kembali menggambar dengan damai tanpa ada rasa sakit.

4 Agustus 2010

ExplorARTion 40 Years Journey of FSR IKJ

Dalam memperingati 40 tahun perjalanan Seni Rupa IKJ, IKJ bersama website Desain Grafis Indonesia mengadakan pameran ilustrasi online. Pameran ini merupakan pameran bersama dari para "dosen dan mahasiswa"-nya. Sebagai bentuk regenerasi dari para pelopor DKV - IKJ kepada mahasiswanya, dan diturunkan kembali ke mahasiswa selanjutnya. Karya-karya ilustrasi yang dipamerkan ini lahir dari berbagai bidang profesi; mulai dari pendidik, ilustrator, digital artis, desainer grafis, animator, dll., yang sampai saat ini masih tetap menekuni dengan baik teknik menggambarnya, baik secara digital maupun manual.

IKJ - EXPLORARTION

Sebagai salah satu alumni IKJ, sangat bangga rasanya bisa ikut serta dalam pameran ini. Apalagi karya ilustrasi saya bisa bersanding bersama karya-karya dosen ilustrasi tercinta saya dulu, seperti; Iwan Gunawan, Saut Irianto M., Saut Miduk T., dll. Dan tentunya bersama dengan ilustrator idola saya saat ini, Muhammad Taufik alias eMTe. :)

Ini adalah pameran pertama saya, dan ngga pernah menyangka bisa ikut dalam pameran seperti ini, apalagi di bawah nama almamater sendiri. Jadi harap maklum ya teman-teman kalau saya agak sedikit berlebihan, hehehe...
Dalam pameran ini saya menyertakan tiga karya ilustrasi; dua ilustrasi untuk buku cerita anak, "Lala Koala" (2008), "Shimmer and Glitter" (2009) dan satu lagi ilustrasi "Everybody Loves Story" untuk acara ASEAN Storytelling Festival 2008. Ketiga karya tersebut adalah karya ilustrasi yang paling saya sukai dan proses
pengerjaannya juga sangat menyenangkan. :)

ALDRIANA A. AMIR di IKJ - EXPLORARTION :)

Namun, satu hal yang membuat saya sangat bahagia dan terharu adalah saya masih diingat oleh seseorang yang tidak pernah saya sangka-sangka, yaitu Bapak Priyanto Sunarto, beliau adalah dosen pembimbing skripsi saya dulu, yang mengajukan saya agar turut serta dalam pameran ini. Maklum, saya ini dari dulu sampai sekarang kan "invisible girl", ngga kelihatan gitu deh... hahaha. Jadi, ini sangat-sangat-sangat berarti sekali buat saya. Terima kasih, Pak Pri! *peluk pak pri haru* Dan terima kasih juga untuk Mas Saut Irianto Manik yang telah mengabari saya. :)
Kalau saya selalu ingat dosen/guru saya loh, terutama yang baik sama saya.. :P

Sebelum saya menangis karena haru, mendingan teman-teman langsung aja ya berkunjung ke sini, melihat-lihat ilustrasi karya anak bangsa, khususnya karya para dosen dan alumni IKJ yang dipamerkan secara online di website DGI - Indonesia.

Selamat hari Rabu semuanya dan salam gambar! :D

NB. Sekali lagi, terima kasih banyak Pak Priyanto Sunarto dan Mas Saut Irianto Manik untuk kesempatan yang telah diberikan kepada saya.