28 September 2017

Buku Cerita dari Negeri Jiran

Sudah cukup lama saya tidak menjalin komunikasi dengan Pak Shukri Edrus, penulis cerita anak dan ilustrator asal Malaysia. Tiba-tiba, kemarin saya dapat kiriman paket pos berisi tiga buku cerita karangan beliau yang dicetak ulang. Buku-buku tersebut berjudul 'Pak Pandir dengan Gergasi' (cetakan pertama tahun 1985), 'Sang Gedembai' (1987), 'Shakeel dengan Sita' (2015). Tahun 2015, terakhir kali kami berkomunikasi, Pak Shukri juga pernah mengirimkan saya dua kamishibai karyanya berjudul 'Alang Pipi Merah' dan 'Buluh Ajaib' yang baru saja terbit pada tahun itu. Kamishibai tersebut merupakan kamishibai pertama yang terbit di Malaysia. Jika dilihat dari informasi pada bukunya, buku-buku karangan beliau ini termasuk dalam kategori Folk Literature dan Children's Stories.

  Sang Gedembai (1987), Shakeel dengan Sita (2015), Pak Pandir dengan Gergasi (1985)

Kamishibai Buluh Ajaib dan Alang Pipi Merah (2015)

Saya berkenalan dengan beliau di acara Jakarta ASEAN Storytelling Festival yang diselenggarakan oleh KPBA (Kelompok Pencinta Bacaan Anak) tahun 2008. Acara itu dihadiri juga oleh para ilustrator dengan memamerkan karya-karyanya. Saya suka sekali lukisan/ilustrasi karya Pak Shukri karena simpel dan lucu. Selepas itu, kami bertukar alamat agar bisa berbagi cerita dan pengalaman seputar buku cerita, seni dan budaya lewat surat ataupun surel. Kami jadi berkawan. Beliau orangnya baik dan senang sekali bercerita. Sebelum menekuni profesinya yang sekarang, ia adalah pustakawan kanak-kanak di Perpustakaan Negara Malaysia. Tahun 2011, kami sempat bertemu kembali di Jakarta, waktu itu beliau bersama temannya sedang melakukan penelitian karya sastra Buya Hamka. Beliau pun membawakan saya beberapa buku cerita Malaysia dan buku cerita berbahasa Mandarin sebagai oleh-oleh.

Mengapa Adik? (Azizah binti Hamzah & Md. Shukri bin Edrus, 2010), Kisah Pak Kaduk (Shukri Edrus, 2010), Mimpi Raja Amir (Shariffah Norlaila Syed Alwi & Damas Wari, 2008). Damas Wari merupakan nama samaran/nama pena beliau

 Salah satu salinan karya Pak Shukri di majalah

Buku cerita Malaysia dan buku cerita India (terjemahan bahasa Malaysia) 

Kami beberapa kali saling bertukar buku cerita. Beliau mengirimkan beberapa buku karangannya dan buku cerita Malaysia. Begitu pun sebaliknya, saya mengirimkan buku cerita bergambar yang pernah saya ilustrasikan dan buku cerita Indonesia. Lewat buku-buku yang beliau kirim, saya jadi bisa sedikit belajar bahasa Malaysia. Bahasa yang digunakan dalam buku cerita tersebut tidak terlalu sulit karena hampir mirip dengan bahasa Indonesia, meski ada cukup banyak kata dalam bahasa Malaysia yang menurut saya aneh, lucu, dan tidak saya paham artinya. Saya menikmati ilustrasinya, buku-buku cerita ini pun menjadi panduan saya dalam menggambar.

Ternyata sudah lama saya tidak menulis karena kesibukan. Saatnya saya mulai kembali berkirim surat dan bertukar kabar dengan beliau. Terima kasih banyak atas buku-bukunya, Pak Shukri. Semoga terus cemerlang dan mari berkarya!

 Salah satu catatan kecil dari Pak Shukri Edrus

8 September 2017

Bingkai Baru Tapi Lama

Saya suka iseng membeli bingkai foto murah-meriah di toko buku atau toko swalayan dekat rumah. Saya suka bingkai sederhana. Kalau kira-kira ada yang saya suka, saya akan beli 2 atau 3 bingkai, setelah itu saya simpan dulu sampai ada foto atau gambar yang pas untuk dibingkai. Kemudian foto/gambar yang sudah dibingkai, saya pajang di dinding ruang gambar (ruang kerja) sebagai penyemangat kala bekerja. Jadi, di ruangan saya itu ada cukup banyak tumpukan bingkai baru yang masih terbungkus plastik dan bingkai bekas yang belum terpakai.

Ada saja niat untuk membingkai foto/gambar-gambar yang istimewa buat saya supaya bisa saya ingat terus atau yang bikin saya semangat berkreasi dan bekerja, atau karena gambarnya saya suka dan bagus untuk dijadikan penghias ruangan. Namun, kadang saya butuh suasana hati yang baik (mood) untuk mengerjakannya, kalau mood-nya sedang tidak ada ya tidak saya kerja-kerjakan sampai lebaran tahun kuda. Jadi harus dipaksakan. Sebetulnya, ruang gambar saya biasa saja, jauh dari kesan artistik. Selama ruangan bersih, nyaman, dan sedikit berantakan, saya pasti akan betah berlama-lama di sana.

Nah, pertengahan Agustus lalu saya punya keinginan membeli art print karya Neil Slorance yang rencananya akan saya pajang di ruang gambar. Selain suka sekali ilustrasi cat airnya, sudah lama juga saya ingin punya lagi ilustrasi karya dia. Lalu saya coba beli lewat toko Etsy-nya. Dari sekian banyak pilihan, terpilih tiga art print berukuran A5 yang paling saya suka. Waktu itu saya ngga kepikiran bingkai apa yang cocok untuk ketiga art print tersebut. Pokoknya dibeli dulu. Ini pertama kali saya membeli art print dari seorang seniman, sebelumnya hampir lima tahun yang lalu saya punya art print dan ilustrasi asli karya Neil Slorance berkat menang kompetisi menggambar untuk ulang tahun blognya.

Paket tiba sekitar dua minggu diantar Pak Pos. Langsung saat itu juga ingin saya bingkai dan pajang gambar-gambarnya. Tiba-tiba saya ingat kalau saya punya tiga bingkai kayu warna-warni yang sudah lama sekali saya beli di Giant Supermarket dengan harga cukup murah dan belum terpakai sampai sekarang. Dua bingkai ukuran 6R dan satu bingkai ukuran 8R. Saya perhatikan warna ketiga bingkai itu serasi sekali dengan art print yang baru saya beli. Sempat sedikit sedih karena satu bingkainya tidak seukuran, cat di bagian sudut dan di belakang ketiga bingkai pun terkelupas saking lamanya saya simpan. Tapi setelah saya utak-atik dan coba pasang art print-nya, semuanya pas! Mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Jadi saya tidak perlu membeli bingkai baru lagi. :D

Bingkai baru tapi lama. Di belakang itu sebagian bingkai lama yang belum terpakai :P

Selalu ada secarik terima kasih ^.^

19 Agustus 2017

Kompas Jumat


Saya suka banget foto halaman depan koran Kompas hari Jumat kemarin. Menampilkan foto ketika Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kalla memberikan apresiasi berupa hadiah sepeda untuk yang berpakaian adat terbaik di Istana Merdeka setelah upacara penurunan bendera. Mereka adalah Frans Maksim, kepala suku dari Kabupaten Pegunungan Arfak (Papua), Yusak Rumambi (Minahasa), Ratna Dewi Budiono (Dayak), Tengku Johan Marzuki (Aceh), dan Sumahartati (Bengkulu).

Senang sekali saya lihat fotonya, berwarna-warni. Seperti semboyan bangsa ini, Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia lahir karena adanya kesatuan di dalam keberagaman. Ini melambangkan kesatuan dari rakyat Indonesia, yang meskipun mempunyai berbagai perbedaan lahiriah tetapi satu di dalam hati.

17 Agustus 2017

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-72, Merdeka!








"Merdeka untuk menolak pengaruh pikiran picik dogmatis yang ingin membelenggu jiwa kita. Merdeka untuk hidup damai dalam keberagaman dan maju bersama." ~ Kurnia JR

Jayalah selalu Indonesia!

5 Juli 2017

Frankie the Dancing Frog

Story by Viona Patricia

“You are special.”

Once upon a time...

There was a thin frog who lives under an apple tree. His name is Frankie. Frankie loves to sing. He sings in the morning, and sings before he sleeps at night. But everybody knows that frogs do not sing. So they don't have good voice like the birds.


One sunny day, Frankie is singing loudly. His voice is harsh. Three yellow birds on the apple tree interrupt, "Hey, please stop your singing, Frankie. It's our part to sing in the morning." So the yellow birds do what they like to do every morning. They sing, and their voices are so clear and beautiful. Frankie feels so sad. "I wish I had voice like the birds." Frankie wishes in his heart.

At noon, after his lunch time, Frankie plays in the pond near the apple tree. In the pond, he sees a beautiful swan. She is passing by and dancing beautifully. She spreads her white feathered wings. The sun is shining over her gracious dancing. Frankie looks at her in awe and says, "I wish I could dance so beautifully, like the swan."


So Frankie tries his move, he spreads his tiny long arms, he twirls around with his long legs, and he trips his own pace. Oh! He cannot dance like the swan. Frankie feels so embarrassed, and so sad.
"Why can't I be like the birds who sing so beautifully? Why can't I be like the swan who dance so graciously?"


Frankie asks himself as he watches his reflection on the water. He begins to cry.
"Why am I a frog?" Frankie sobs. He was sulked in tears.
"Don't cry, Frankie. Maybe you should practice more." says Bubu the Butterfly.
"Or maybe you can ask the birds and the swan to teach you." says Bobby the Bee.
"I'll try." Frankie smiles.


The next morning, Frankie asks the yellow birds on the apple tree. "Please teach me to sing, little birdie." 
"Okay. We can teach you." the oldest yellow bird says.
"Oh happy daaayy... Oh happy daaayyy..." sing the birds.

"Ooooh happy daaayy... Oh haaaapyy dayyy..." imitates Frankie, trying to sound like the birds. But the birds laugh at his voice, because his singing sound like somebody has caught flu.


So, the birds say, "You cannot sing like us, Frankie. You're a frog. A frog doesn't sing."
Frankie feels sad again. He gives up singing. But he still can do dance like the swan. So he comes to the pond and asks for the swan to teach him how to move like her.
"Please, teach me how to dance like you do." Frankie asks the swan, as she passes by.

"Well, it's easy, you just have to spread your wings like this," the swan shows her move, "...and twirl your body slowly."

Frankie tries the move. He spreads his thin arms, and twirls around slowly. But again, he loses his balance and trips himself. Frankie falls into the water, and hears the swan laugh at him.


"I am a swan, I am created to dance like this. But you are a frog, Frankie. You aren't supposed to do my moves." says the swan, chuckling.

Frankie feels so sad. He begins to think he cannot do anything. He cannot sing, nor dance. He is a frog, not a bird or a swan! Frankie sobs, and decides to return home.
Now in the small living room under the apple tree, Frankie sits on a stool. He asks himself, "What can I do?"

"Why are you so sad?" A voice so calm comes from near where Frankie sits. 
Frankie replies, "Who are you? Where are you?"
"I'm here." comes the sound from the fallen leaves near Frankie. "I'm Willie the Silk Worm."

"Oh, hello, Willie. I'm Frankie. Nice to meet you." Frankie tries to see Willie. Willie is small and green. Yet, his face looks smart. He is a silk worm. A silk worm can make very soft clothes.

"Why are you sad, Frankie?" asks Willie the Silk Worm.

"Because I cannot sing like the birds, I cannot dance like the beautiful swan." replies Frankie, sobbing. "I think I can't do anything."


"Look at me. I'm small, and I cannot move like the swan moves. But I am not sad. Because I can do something good. I produce good clothing. Listen, Frankie. Every creature is unique. You are a frog, and you are unique because you do what frogs do. Do what you can do, Frankie."

"What I can do? Hmmm..." Frankie thinks hard. He walks around his chair.

"Ouch!" Frankie suddenly stomps on a piece of wood and stumbles. "Whoaa..." Frankie shrieks, keeping his balance. 

THUMP. THUD. THUD. 

"Hey, this wood sounds!" Frankie shouts excitedly.

THUMP. THUD. THUD.
THUNK. THUMP. THUD.

"Hey, this is fun!" Frankie stomps his feet on the wood, again and again.

THUMP. THUD. THUD.
THUNK. THUMP. THUD.
*tapping dance music*

"Look, this thing sounds very cool!" Frankie shouts, moving his legs and body so happily. Sweat is all over his body. He enjoys his new activity so much.

"Ah, you're doing tap dancing! Now you know what you can do, Frankie!" Willie says, clapping his hands!


"Ha! This is fun! Now I know what I can do!" Frankie is so much thrilled. He wants to show his moves to his friends; the swan, three yellow birds, Bubu the butterfly, and Bubba the bee.

So he steps out of his living room, with a long black hat on his head, and shiny black shoes on his legs, Frankie brings the piece of wood to the lakeside, and begins to perform.

"Ladies and gentlemen, here comes, Frankie the Dancing Frog!" Willie announces merrily.

THUMP. THUD. THUMP. THUD.
THUD. THUMP. THUMP. THUD.

The swan, Bubba the Bee, and Bubu the butterfly joins the show, they're dancing with Frankie. While three yellow birds do the singing. What an exciting performance! Frankie's friends are enjoying it!


"I don't have to be a bird or a swan to make people smile. I can do my dance! Tap dancing!"

THUMP. THUD. THUMP. THUD.

Clapping hands are heard everywhere. Now the animals in the forest are gathering around Frankie and everybody loves Frankie's dance! Then, Frankie ends his dance with a bow. He takes his hat off, and bend his back.

Now Frankie understands, he doesn't need to be a bird or a swan, because he is special in his way.

***

14 Juni 2017

Buku Rori Si Pelupa


Akhir Mei 2017 saya mendapat kiriman dari editor bukti terbit buku cerita bergambar Rori Si Pelupa. Buku yang baru saja terbit ini masih satu seri dengan Olli Si Penakut. Berkisah tentang tikus tanah bernama Rori yang lupa jalan pulang ke rumah setelah membeli seikat bunga untuk neneknya. Karena lupa, Rori jadi nyasar ke mana-mana hingga nyasar ke kamar mandi Robi Rubah! Rori tidak menyerah untuk terus menggali tanah sambil mengingat-ingat dan mencari jalan kembali ke rumahnya.



Sewaktu menggarap ilustrasi cerita ini saya jadi ingat diri saya sendiri yang sering nyasar kalau melewati gang atau jalan-jalan kecil. Buat saya, rasanya semua gang itu tampak serupa. Saya harus berputar-putar dulu di jalan yang sama, kadang sampai jauh ke mana-mana, hingga akhirnya menemukan jalan yang benar. Kadang dalam menjalani hidup juga suka begitu, kan? :D



Saya selalu bersemangat saat mengerjakan ilustrasi yang ceritanya benar-benar saya suka. Mudah bagi saya membayangkan gambarnya, apalagi jika sang editor memberi kebebasan kepada saya ketika menggarap ilustrasinya, selama ilustrasi sesuai dengan ceritanya. Meski ada revisi gambar di sana-sini dan ada sedikit kesalahan pada cetakannya (menurut editor, akan diperbaiki pada cetakan kedua dan seterusnya), saya tetap senang. Entah kenapa, saya suka ketawa lihat gambar sendiri. :))

Judul: Rori Si Pelupa
Cerita: Susan Monalusia
Ilustrasi: Aldriana Amir
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Erlangga for Kids, 2017