29 November 2016

Secarik Terima Kasih

Sudah sejak lama saya menyukai ilustrasi karya Neil Slorance. Belum lama ini saya mulai mengoleksi buku komik karangannya. Tidak semua hanya beberapa serial komik personalnya yang saya beli dari sini. Setiap komik pesanan saya itu tiba (meski cuma membeli satu), di dalam bukunya selalu terselip secarik kertas ucapan terima kasih yang ditulis langsung oleh Neil. Pada halaman judulnya pun tidak lupa dia bubuhi tanda tangan. Sebetulnya, ini sesuatu yang biasa saja karena dia juga melakukan hal yang sama kepada para pembeli sebagai bentuk terima kasih. Tetapi bagi penggemar karyanya yang tinggal di belahan dunia lain dan harus menunggu cukup lama hingga bukunya tiba, secarik kertas ini bisa menjadi istimewa dan sangat berkesan. ^_^




2 November 2016

Katak Hula




Informasi mengenai Katak Hula yang sesungguhnya bisa dibaca di sini. Tetapi dalam bayangan saya, Katak Hula adalah katak bermotif polkadot yang suka menari hula-hula. :))

14 Oktober 2016

Baby Chicks!


Di rumah ada sebelas ekor anak ayam serama yang baru menetas. Ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan anak ayam kate biasa. Sangat kecil, ringan, dan lembut bagai kapas pembersih muka. Lucunya, anak-anak ayam ini suka sekali nyemplung ke tempat air minumnya. Sehari bisa nyemplung berkali-kali. Padahal tempat minumnya kecil juga. Barangkali mereka senang berenang. Akibatnya jadi basah kuyup semua badannya. Kalau sudah begitu, mereka menciap-ciap kedinginan. Saya harus menjemur mereka di bawah sinar matahari supaya kering dan hangat. Kalau ingin cepat, saya keringkan mereka dengan pengering rambut. Kemarin, saya dapat ide, gimana kalau anak-anak ayam itu dikasih ban renang supermini? Jadi kalau mereka tercemplung ke dalam tempat minum bisa mengambang dan ngga basah kuyup lagi. Hmm, tapi setelah dipikir-pikir, bukan ide yang bagus, ya... :))

1 Oktober 2016

Buku Gambar Putih dan Cat Air

Kadang-kadang aku merasa buku gambar putih itu terlalu besar.
Buku gambar yang selalu kugambari,
tapi secara khusus terasa besar dan lebar
sehingga kadang aku tidak tahu mulai menggambar dari mana.
Hidup itu seperti menggambar sesuatu di buku gambar putih.
Ukuran buku gambarnya sudah ditentukan di dalamnya.
Kamu ingin menggambar apa atau ingin mewarnai apa, 
itu adalah keputusan masing-masing. 
Walau tidak berharap bisa menggambar dengan baik,
aku berharap gambar itu gambar yang bagus di hadapanku.
Bukan gambar yang disukai oleh orang lain,
tapi gambar yang aku sukai. 
Walau aku sedikit takut dengan buku gambar putih,
aku harus memulai menggambar sedikit demi sedikit.
***
Diambil dari buku "A Life Full of Love" karangan Cho Seon Jin. Halaman 275.
Pengalih Bahasa: Herlinda Yuniasti. Penerbit: Bhuana Ilmu Populer, 2016.

7 September 2016

Menjawab Tantangan

Saya mendapat tantangan ngeblog dari Mbak Tirsa, untuk menjawab lima pertanyaan tentang menunggu. Baiklah, langsung saja saya jawab ya! :D


1. Di masa pra-gadget, apakah yang Anda lakukan ketika Anda menunggu sesuatu/seseorang?
Melihat-lihat suasana serta mengamati sekitar. Sebetulnya, dari dulu hingga sekarang ketika menunggu saya jarang sekali memainkan telepon seluler saya. Sesekali saya keluarkan dari tas untuk mengecek pesan yang masuk saja. Misalnya, ketika menunggu antrean di bank, saya senang mengamati orang-orang yang berada di sana. Mengamati satpamnya, teller-nya, orang-orang yang mengantre di depan saya, mencuri dengar obrolan mereka, mengamati seseorang yang juga sedang mengamati orang lain. Saya kerap membuat jalan cerita dalam pikiran saya tentang orang-orang/sesuatu yang sedang saya amati itu. 
Misalnya lagi, ketika menunggu antrean berobat di dokter, biasanya saya bertanya dapat nomor antrean berapa ke pasien yang kebetulan sudah lebih dulu duduk menunggu di sebelah saya. Saya ajak ngobrol sedikit jika orangnya kelihatan ramah. Atau kalau bingung mau ngobrol apa dan dengan siapa, saya diam saja mengamati keadaan ruang tunggu, sambil melihat suasana di luar melalui jendela, mengamati warna tirai jendela, lampu dan langit-langit ruangan, tanaman yang ada di sana, gambar/poster di dinding ruangan, dan melipat-lipat kertas nomor antrean saya mejadi perahu kertas.

2. Apakah acara TVRI yang Anda tunggu-tunggu semasa kecil dulu? Mengapa acara itu Anda tunggu?
Si Unyil! Saya, kakak, dan adik pasti akur sekali kalau sedang menonton Unyil. Ceritanya bagus, karakternya dekat dengan keseharian kita. Sewaktu kecil, saya juga menunggu acara Gemar Menggambar yang dipandu oleh Pak Tino Sidin. Kalau tidak salah, acaranya tayang setiap Minggu sore. Sehabis mandi sore, saya pasti menunggu acara beliau di depan tv, siap dengan buku gambar dan pensil warna seadanya. Saya bakal anteng sendirian di depan tv, menunggu sambil menebak-nebak gambar apa yang dibikin oleh Pak Tino Sidin, setelah itu saya ikut menggambar dengan tahap-tahap gambar yang diajarkan beliau. Karena kesukaan saya menggambar, papa saya membelikan serial buku Gemar Menggambar karangan Pak Tino Sidin.

3. Apakah Anda pernah menunggu tukang jajanan tertentu? Apakah jajanannya dan mengapa Anda menunggunya?
Pernah. Di kompleks rumah suka ada abang jajanan lewat, tapi saya tidak begitu suka jajan. Saya lebih suka makan makanan bikinan sendiri atau masakan mama saya di rumah. Sesekali, ada kalanya sih saya kepingin makan makanan bikinan abang-abang. Kayak Ketoprak dan Sate Padang. Waktu itu lagi pingin banget makan kedua makanan tersebut. Sayang, si abang sate langganan ngga lewat-lewat depan rumah. :((

4. Pernakah menunggu seseorang lalu orangnya tidak muncul? Jika pernah, bagaimana reaksi Anda kepada dia selanjutnya?
Pernah. Tapi sebalnya langsung hilang kok setelah besoknya kami bertemu dan dia minta maaf sambil bawa es krim buat saya. :))

5. Apakah Anda pernah menunggui seseorang di rumah sakit? Siapa? Dan kenapa? 
Pernah. Papa. Komplikasi karena sakit gula. Hampir sebulan lamanya, bergantian dengan mama, kakak, dan adik, menunggui papa di rumah sakit. Mulai dari masuk UGD, rawat inap, sampai ICU. Waktu itu saya masih kuliah semester akhir dan kebetulan jadwal kuliah saya hanya dua hari, jadi saya punya lebih banyak waktu menemani mama sambil menunggui papa di sana. Bersyukur sekali sewaktu menunggui papa, saya masih bisa menyuapi makanan dan buah jeruk ke papa, mengurut kakinya yang pegal-pegal, menunggui dan melihat beliau mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang di ruang ICU. Setelah semuanya berakhir, saya sempat trauma ke rumah sakit. 

Yak, selesai! Makasih Mbak Tirsa buat tantangan ngeblognya. Hahaha. Saya jadi punya cerita buat ditulis di sini, deh. :))