7 September 2016

Menjawab Tantangan

Saya mendapat tantangan ngeblog dari Mbak Tirsa, untuk menjawab lima pertanyaan tentang menunggu. Baiklah, langsung saja saya jawab ya! :D


1. Di masa pra-gadget, apakah yang Anda lakukan ketika Anda menunggu sesuatu/seseorang?
Melihat-lihat suasana serta mengamati sekitar. Sebetulnya, dari dulu hingga sekarang ketika menunggu saya jarang sekali memainkan telepon seluler saya. Sesekali saya keluarkan dari tas untuk mengecek pesan yang masuk saja. Misalnya, ketika menunggu antrean di bank, saya senang mengamati orang-orang yang berada di sana. Mengamati satpamnya, teller-nya, orang-orang yang mengantre di depan saya, mencuri dengar obrolan mereka, mengamati seseorang yang juga sedang mengamati orang lain. Saya kerap membuat jalan cerita dalam pikiran saya tentang orang-orang/sesuatu yang sedang saya amati itu. 
Misalnya lagi, ketika menunggu antrean berobat di dokter, biasanya saya bertanya dapat nomor antrean berapa ke pasien yang kebetulan sudah lebih dulu duduk menunggu di sebelah saya. Saya ajak ngobrol sedikit jika orangnya kelihatan ramah. Atau kalau bingung mau ngobrol apa dan dengan siapa, saya diam saja mengamati keadaan ruang tunggu, sambil melihat suasana di luar melalui jendela, mengamati warna tirai jendela, lampu dan langit-langit ruangan, tanaman yang ada di sana, gambar/poster di dinding ruangan, dan melipat-lipat kertas nomor antrean saya mejadi perahu kertas.

2. Apakah acara TVRI yang Anda tunggu-tunggu semasa kecil dulu? Mengapa acara itu Anda tunggu?
Si Unyil! Saya, kakak, dan adik pasti akur sekali kalau sedang menonton Unyil. Ceritanya bagus, karakternya dekat dengan keseharian kita. Sewaktu kecil, saya juga menunggu acara Gemar Menggambar yang dipandu oleh Pak Tino Sidin. Kalau tidak salah, acaranya tayang setiap Minggu sore. Sehabis mandi sore, saya pasti menunggu acara beliau di depan tv, siap dengan buku gambar dan pensil warna seadanya. Saya bakal anteng sendirian di depan tv, menunggu sambil menebak-nebak gambar apa yang dibikin oleh Pak Tino Sidin, setelah itu saya ikut menggambar dengan tahap-tahap gambar yang diajarkan beliau. Karena kesukaan saya menggambar, papa saya membelikan serial buku Gemar Menggambar karangan Pak Tino Sidin.

3. Apakah Anda pernah menunggu tukang jajanan tertentu? Apakah jajanannya dan mengapa Anda menunggunya?
Pernah. Di kompleks rumah suka ada abang jajanan lewat, tapi saya tidak begitu suka jajan. Saya lebih suka makan makanan bikinan sendiri atau masakan mama saya di rumah. Sesekali, ada kalanya sih saya kepingin makan makanan bikinan abang-abang. Kayak Ketoprak dan Sate Padang. Waktu itu lagi pingin banget makan kedua makanan tersebut. Sayang, si abang sate langganan ngga lewat-lewat depan rumah. :((

4. Pernakah menunggu seseorang lalu orangnya tidak muncul? Jika pernah, bagaimana reaksi Anda kepada dia selanjutnya?
Pernah. Tapi sebalnya langsung hilang kok setelah besoknya kami bertemu dan dia minta maaf sambil bawa es krim buat saya. :))

5. Apakah Anda pernah menunggui seseorang di rumah sakit? Siapa? Dan kenapa? 
Pernah. Papa. Komplikasi karena sakit gula. Hampir sebulan lamanya, bergantian dengan mama, kakak, dan adik, menunggui papa di rumah sakit. Mulai dari masuk UGD, rawat inap, sampai ICU. Waktu itu saya masih kuliah semester akhir dan kebetulan jadwal kuliah saya hanya dua hari, jadi saya punya lebih banyak waktu menemani mama sambil menunggui papa di sana. Bersyukur sekali sewaktu menunggui papa, saya masih bisa menyuapi makanan dan buah jeruk ke papa, mengurut kakinya yang pegal-pegal, menunggui dan melihat beliau mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang di ruang ICU. Setelah semuanya berakhir, saya sempat trauma ke rumah sakit. 

Yak, selesai! Makasih Mbak Tirsa buat tantangan ngeblognya. Hahaha. Saya jadi punya cerita buat ditulis di sini, deh. :))

23 Juli 2016

Kamishibai: Katak Ingin Bermain Sirkus

Judul: Katak Ingin Bermain Sirkus
Cerita: Murti Bunanta
Ilustrasi: Aldriana A. Amir
Penerbit: Yayasan Murti Bunanta, 2008

Dua bulan lalu saya kembali membuat dummy kamishibai dari buku cerita kecil karangan ibu Murti, berjudul Katak Ingin Bermain Sirkus. Cerita sederhana mengisahkan sekumpulan katak yang merasa pandai melompat, berenang, dan menyanyi namun tidak ada yang mengajak mereka bermain sirkus. Mulailah mereka berlatih melompat dari satu daun ke daun lainnya, dari dahan rendah ke dahan paling tinggi. Segala upaya dilakukan agar bisa terbang sambil melakukan atraksi di udara. Berhasilkah sekumpulan katak tersebut terbang? Dan adakah yang mengajaknya bermain sirkus?






Sepertinya saya tidak bisa lepas dari menggambar kodok. Dan kayaknya sang kodok pun menyukai saya. Hahaha. Proses pengerjaan kamishibai ini sama seperti membuat ilustrasi kamishibai sebelumnya yang pernah saya ceritakan di blog. Ada tentang Si Tomat yang bisa berkawan, Katak yang menciptakan tarian pengusir ular, dan Si Kecil berjalan-jalan. Semua ilustrasi diawali tahap sketsa, outline dengan spidol/drawing pen, lalu warna di komputer. Setelah semua siap, kemudian ilustrasi dicetak digital. Membuat ilustrasi kamishibai dari buku-buku cerita berukuran kecil karangan ibu Murti ini selalu menyenangkan buat saya. Rasanya seperti bermain saja. Tidak sabar melanjutkan ilustrasi kamishibai untuk cerita berikutnya! :D





17 Juni 2016

Surat Lianty


Lucu deh, tiga hari yang lalu saya dapat surat dari kawan baru. Namanya Lianty Putri, usianya baru 15 tahun, tinggal di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Sebelumnya Lianty pernah mengirim satu kartu pos untuk saya bergambar doodle karyanya. Doodle bikinan Lianty bagus-bagus, loh! Dalam suratnya, Lianty bercerita kalau dia punya banyak hobi. Seperti menggambar, membaca, dan ngeblog. Lianty juga bertanya tentang profesi saya sebagai ilustrator. Kaget sekaligus senang karena Lianty tahu banyak dan suka mengikuti ilustrasi yang pernah saya bikin untuk buku kumpulan cerpen dan majalah anak. Lianty menyelipkan di dalam suratnya potongan salah satu ilustrasi cerpen yang pernah saya bikin sekitar tahun 2007. Cerpen tersebut ditulis oleh Dewi Cendika yang saat itu terbit setiap bulan di Majalah Bravo.


Surat Lianty ini datang ketika saya sedang sakit gigi. Mau menggambar jadi ngga bersemangat. Sewaktu membaca surat dari Lianty, sakitnya jadi agak berkurang. Walau besoknya saya harus tetap berobat ke dokter gigi. Alhamdulillah, sekarang sudah sembuh. :D

Terima kasih banyak, Lianty! Kertas suratnya lucu, tulisan tangannya rapi. Lianty tau aja kalau Nobita dan Doraemon tokoh kartun kesukaan saya. Terus semangat juga buat Lianty, tunggu surat balasan dari saya, ya! ^_^