Tampilkan postingan dengan label Pensil Warna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pensil Warna. Tampilkan semua postingan

19 Januari 2017

2 November 2016

Katak Hula




Informasi mengenai Katak Hula yang sesungguhnya bisa dibaca di sini. Tetapi dalam bayangan saya, Katak Hula adalah katak bermotif polkadot yang suka menari hula-hula. :))

23 Juli 2016

Kamishibai: Katak Ingin Bermain Sirkus

Judul: Katak Ingin Bermain Sirkus
Cerita: Murti Bunanta
Ilustrasi: Aldriana A. Amir
Penerbit: Yayasan Murti Bunanta, 2008

Dua bulan lalu saya kembali membuat dummy kamishibai dari buku cerita kecil karangan Ibu Murti, berjudul "Katak Ingin Bermain Sirkus". Cerita sederhana mengisahkan sekumpulan katak yang merasa pandai melompat, berenang, dan menyanyi namun tidak ada yang mengajak mereka bermain sirkus. Mulailah mereka berlatih melompat dari satu daun ke daun lainnya, dari dahan rendah ke dahan paling tinggi. Segala upaya dilakukan agar bisa terbang sambil melakukan atraksi di udara. Berhasilkah sekumpulan katak tersebut terbang? Dan adakah yang mengajaknya bermain sirkus?






Sepertinya saya tidak bisa lepas dari menggambar kodok. Dan kayaknya sang kodok pun menyukai saya. Hahaha. Proses pengerjaan kamishibai ini sama seperti membuat ilustrasi kamishibai sebelumnya yang pernah saya ceritakan di blog. Ada tentang Si Tomat yang bisa berkawan, Katak yang menciptakan tarian pengusir ular, dan Si Kecil berjalan-jalan. Semua ilustrasi diawali tahap sketsa, outline dengan spidol/drawing pen, lalu warna di komputer. Setelah semua siap, kemudian ilustrasi dicetak digital. Membuat ilustrasi kamishibai dari buku-buku cerita berukuran kecil karangan Ibu Murti ini selalu menyenangkan buat saya. Rasanya seperti bermain saja. Tidak sabar melanjutkan ilustrasi kamishibai untuk cerita berikutnya! :D





16 Agustus 2015

Maleo, Si Sederhana nan Unik




Foto burung maleo di atas saya ambil sekitar bulan Mei lalu sewaktu berkunjung ke Kebun Binatang Ragunan. Selain di sana, sepasang maleo juga bisa kita lihat di Taman Burung di Taman Mini Indonesia Indah. Maleo merupakan satwa endemik pulau Sulawesi yang terancam punah. Meski penampilannya sederhana, dia punya banyak keunikan. Burung yang memiliki jambul/tonjolan keras di kepalanya ini lebih senang berjalan kaki dan sangat setia pada pasangannya. Badannya kurang lebih sebesar ayam kampung. Ukuran telurnya lima kali lebih besar dari telur ayam. Ketika bertelur maleo betina hanya menghasilkan satu butir telur saja. Kabarnya setelah bertelur sang betina langsung jatuh pingsan. Maleo tidak mengeramkan telurnya melainkan menguburkan telurnya di bawah pasir.

Sebelumnya saya cuma mendengar namanya saja, melihat wujudnya sama sekali belum pernah. Sampai suatu ketika, saya dapat tugas membuat ilustrasi buku tentang satwa khas Indonesia. Dan maleo masuk di dalamnya. Kemudian saya mulai mengumpulkan informasi tentang burung ini lewat internet dan buku. Lalu, saya pergi ke Taman Burung dan Kebun Binatang Ragunan untuk mengamati dan melihat lebih dekat wujud maleo. Setelah itu baru bikin sketsanya. Agak ribet memang, tapi proses seperti ini yang paling saya suka ketika menggambar. Mencari referensi dan mengumpulkan data, lalu membuat sketsa dan menggambarnya. Jadi setiap kali melihat maleo di Kebun Binatang Ragunan atau di Taman Burung, saya selalu ingat pengalaman saat menggambarnya. Sketsanya pun masih saya simpan hingga sekarang.

Sketsa burung maleo, pensil warna di kertas A4, tahun 2005

Bila teman-teman berkunjung ke Taman Burung di TMII atau Kebun Binatang Ragunan di Jakarta, jangan lupa melihat dan menyapa maleo ya. ^_^

7 Mei 2015

Kamishibai: Si Kecil Berjalan-jalan

Saya baru saja menyelesaikan lagi proyek gambar kamishibai-nya Ibu Murti Bunanta. Kamishibai ini dibikin sekitar dua minggu yang lalu. Terdiri dari sembilan panel cerita, termasuk sampulnya. Kisahnya masih diambil dari salah satu buku kecil karangan beliau, "Si Kecil Berjalan-jalan". Tentang si Kecil berjalan-jalan sendirian tanpa minta izin dahulu ke orangtuanya. Sehingga membuat khawatir ayah dan ibunya karena si Kecil belum juga muncul sedangkan hari sudah mulai gelap. Paman, bibi, serta teman-teman ayah si Kecil tidak mau ketinggalan membantu mencari si Kecil. 

Proses pembuatannya sama dengan pembuatan Kamishibai Si Tomat Bisa Berkawan dan Kamishibai Tarian Pengusir Ular. Mulai dari tahap sketsa hingga pembuatan gambarnya semua dikerjakan manual. Hanya pewarnaannya saja saya kerjakan dengan komputer. Di sini saya banyak melakukan revisi sketsa karakter si ayam betina dewasa. Setelah melewati beberapa kali revisi, akhirnya disetujui juga oleh Ibu Murti dengan komentar, "Bagus, boleh dilanjutkan kembali gambarnya." Rasanya bahagia banget! :))

Sketsa



Ilustrasi manual



Pewarnaan di komputer


Ukuran kamishibai: 39 x 26.5 cm
Lapisi hasil cetakan digital dengan kertas duplex 
agar kamishibai tetap tegak dan kokoh dipegang saat dipakai mendongeng

Tempel teks cerita di balik kamishibai



Kamishibai siap digunakan

Lalu, bikin amplop dari kertas duplex untuk menyimpan kamishibai-nya agar tidak tercecer atau hilang. Kamishibai ini masih berupa mock-up sederhana, meski begitu tetap bisa digunakan. Kalian juga bisa membuat sendiri kamishibai sederhana namun tetap menarik untuk digunakan sebagai media mendongeng atau bercerita. :)

Buku-buku kecil karangan Ibu Murti merupakan proyek ilustrasi buku cerita anak pertama saya bersama beberapa teman kampus selepas lulus kuliah. Ada 23 judul buku yang ilustrasinya kami kerjakan. Ketika itu beliau membutuhkan ilustrator-ilustrator baru untuk naskah cerita buku kecilnya. Kemudian saya diajak dan dikenalkan ke Ibu Murti oleh dosen ilustrasi saya, Mas Saut Miduk. Datanglah saya ke kantor KPBA (Kelompok Pencinta Bacaan Anak), saat itu masih berlokasi di Jalan Wijaya. Saya membawa portofolio yang ketika itu berisi tugas-tugas mata kuliah ilustrasi. Mungkin Ibu Murti merasa cocok dengan gambar saya, sejak itu hingga saat ini saya masih dipakai beliau untuk mengilustrasikan beberapa cerita karangannya.

Yang paling saya suka selama mengerjakan proyek buku kecil, Ibu Murti tidak pernah membanding-bandingkan ilustrasi kami. Menurutnya, setiap ilustrator punya tarikan garis dan gaya gambar masing-masing. Dari awal beliau sudah tahu kira-kira ilustrator mana yang akan ia pakai untuk proyek bukunya. Berkat beliau-lah saya jadi jatuh hati lebih dalam lagi dengan buku cerita bergambar.

Kenapa saya sebut buku kecil? Sebab di antara buku-buku karangan beliau, ukuran buku ini cukup kecil yaitu 15.5 x 15.5 cm. Selain itu, ceritanya juga sangat sederhana karena ditujukan untuk pembaca pemula. 

Berikut tampilan tiga sampul buku kecil karangan Ibu Murti yang telah dibikin dummy kamishibai.

Judul: Si Kecil Berjalan-jalan
Cerita: Murti Bunanta
Ilustrasi: Saut Miduk T.
Penerbit: Yayasan Murti Bunanta, 2004

Judul: Tarian Pengusir Ular
Cerita: Murti Bunanta
Ilustrasi: Aldriana A. Amir
Penerbit: Yayasan Murti Bunanta, 2004

Judul: Si Tomat Bisa Berkawan
Cerita: Murti Bunanta
Ilustrasi: Imelda Rosvita Y.
Penerbit: Yayasan Murti Bunanta, 2008