Tampilkan postingan dengan label Seniman/Artist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seniman/Artist. Tampilkan semua postingan

12 April 2018

Bernostalgia di Taman Tino Sidin

Tino Sidin (25 November 1925 - 29 Desember 1995)

Liburan akhir pekan bulan Maret lalu, saya bersama keluarga berkesempatan jalan-jalan ke Yogyakarta. Hampir belasan tahun kami (kakak, saya, adik, dan mama) tidak pernah jalan-jalan bersama. Jadi ini benar-benar kesempatan langka. Karena keterbatasan waktu, tidak semua tempat wisata kami kunjungi. Kami punya rencana tujuan wisata masing-masing. Satu tujuan utama tempat wisata yang ingin sekali saya kunjungi adalah Museum Tino Sidin yang terletak di Kasihan, Bantul. Sekitar satu jam dari kota Yogja. Sudah lama saya ingin ke sana. Bila ada kesempatan ke Yogyakarta saya harus mengunjungi tempat tersebut. Alhamdulillah, kesampaian juga.

Kami berangkat dari kota Yogja pukul 8 pagi. Saat kendaraan kami memasuki wilayah Bantul, saya suka sekali pemandangannya. Suasana pedesaannya, sawah di mana-mana, tenang, rapi, trotoar-nya tidak dipenuhi oleh tenda-tenda PKL sehingga kelihatan bersih. Kami tiba di Museum Tino Sidin sekitar pukul 9 pagi. Letak museumnya di kompleks perumahan. Tampilannya pun seperti rumah tinggal biasa. Ketika masuk, rasanya kami seperti sedang main ke rumah kakek atau saudara saja. Karena memang rumah pribadi Pak Tino Sidin-lah yang dijadikan museum sederhana oleh anak-anak beliau. Di depan museum terdapat patung Pak Tino, dan di samping kanannya terparkir mobil sedan Datsun tahun 70-an milik Pak Tino yang masih dirawat dan dikendarai sendiri oleh putri bungsu beliau. Museum ini dikenal juga dengan sebutan Taman Tino Sidin, yang terinspirasi oleh Taman Ismail Marzuki. Diharapkan Taman Tino Sidin bisa sebagai tempat melanjutkan cita-cita dan semangat Pak Tino, khususnya dalam dunia pendidikan seni anak-anak.


 Suasana halaman depan Taman Tino Sidin


Sesampainya di sana, kami disambut ramah oleh Mas Lanang, pemandu Taman Tino Sidin, mahasiswa Arkeologi UGM. Kami pengunjung pertama pada Sabtu pagi itu. Setelah mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk Rp. 5000/orang, kami diajak berkeliling oleh Mas Lanang. Museum terdiri dari dua lantai. Ruang pamer (galeri) dan ruang tinggal (pribadi) berada di lantai 1. Lantai 2 masih sebagai ruang pamer (galeri) dan ruang pertemuan serta tempat kegiatan seni anak-anak.

Pertama-tama, kami diajak Mas Lanang melihat-lihat buku karya Pak Tino Sidin. Ada buku Gemar Menggambar, Ayo Menggambar, buku cerita bergambar, dan masih banyak lagi. Buku-buku tersebut dipajang rapi dalam lemari kaca yang bisa kita lihat dan baca-baca sekilas.


Lalu, ada juga penghargaan dan surat/arsip-arsip milik Pak Tino, seperti kwitansi dari Bapak Soeharto (Presiden RI ke-2), amplop honorarium dari TVRI, dll. Ada spidol besar merek Pentel yang biasa dipakai Pak Tino membuat outline gambar sebelum gambar diwarnai krayon Pentel-nya dalam acara Gemar Menggambar yang ditayangkan TVRI tahun 80-an. Pak Tino senang menyimpan segala sesuatu yang dianggap bersejarah/berharga oleh beliau. Ketika melihat spidol dan krayon Pentel milik Pak Tino, ingatan saya langsung terbang ke masa kecil saya pada sore hari saat menonton acara televisi beliau.



Mas Lanang sedang menjelaskan kwitansi dari Pak Harto untuk Pak Tino

Pada dinding ruangan terpajang sketsa hitam putih dan sketsa berwarna menggunakan spidol, yang menggambarkan pemandangan alam dan suasana. Ketika mengunjungi suatu tempat, Pak Tino senang mendokumentasikannya ke dalam gambar berupa sketsa. Ada pula sketsa cat air serta lukisan cat minyak. 






Pada bagian lain terpajang memorabilia Pak Tino, seperti baju batik, arloji, kacamata, dan topi baret yang menjadi ciri khasnya. Semua dalam kondisi sangat baik. 



Pada ruang selanjutnya, dokumentasi berupa foto-foto Pak Tino bersama keluarga, kawan-kawan sesama seniman, seperti Affandi, Basuki Abdullah, S. Soedjojono. Dan foto-foto kegiatan Pak Tino saat aktif di kepanduan.



Setelah melihat karya-karya Pak Tino hingga ke lantai 2, kami diajak Mas Lanang kembali ke lantai 1 untuk menonton video rekaman acara Gemar Menggambar sambil menggambar bersama. Kertas dan spidol disediakan di sana. Karena keterbatasan kertas dan spidol, hanya saya dan mama saya yang ikut menggambar, kakak dan adik sebagai fotografer. Saya benar-benar bernostalgia di Taman Tino Sidin!





Mama menggambar :D

Seperti mengulang masa kecil saya di rumah, menggambar mengikuti tahap-tahap gambar yang dipandu oleh Pak Tino lewat layar televisi tapi kali ini saya menggambar di rumah beliau.

Setelah video Pak Tino selesai, selesai pula sesi menggambar bersama, yang menjadi bagian akhir dari berkeliling di Taman Tino Sidin. Kami semua spontan tepuk tangan saking gembiranya. Sambil kompak melambaikan tangan dan bilang, "Dadaaaah, Bapaaaakkk.." ke arah televisi. :))

Kebetulan sekali hari itu ada Ibu Titik Tino Sidin (putri bungsu Pak Tino), pemilik sekaligus pengelola Taman Tino Sidin, sedang membimbing anak-anak menggambar di lantai 2. Saya meminta izin ke Mas Lanang untuk minta tanda tangan beliau pada hasil gambar saya dan berfoto bersama beliau buat kenang-kenangan. ^_^


Bagus!!

Sekitar pukul 11.00, kami pamit untuk meneruskan perjalanan ke tempat wisata berikutnya. Ini kunjungan museum paling berkesan buat saya. Berkunjung ke rumah idola saya sejak kecil, yang membuat saya senang menggambar.

 Pesan Pak Tino Sidin untuk anak-anak Indonesia

Terima kasih, Pak Tino!

Foto oleh: 
Alvenia Amir, Alvina Amir

Lokasi:
Taman Tino Sidin
Jalan Tino Sidin No. 297 Kadipiro, Ngestiharjo
Kasihan, Bantul - Yogyakarta 55182

Tiket Masuk: Rp. 5000,- | Buka: 10.00 - 17.00 WIB | Tutup Minggu

29 Januari 2018

#QOTD (6)

"Saya berpesan agar Anda tidak usah takut dan sangsi dalam menarik garis. Apa sebab? Sebabnya kalau Anda menarik garis tersendat-sendat, maka garis Anda itu kaku. Jadi hilangkanlah keraguan Anda dalam menarik setiap garis yang Anda buat." ~ Tino Sidin

Dikutip dari buku Gambar Dekoratif 2 oleh Tino Sidin, halaman 8, Penerbit Balai Pustaka, 1992. 

28 September 2017

Buku Cerita dari Negeri Jiran

Sudah cukup lama saya tidak menjalin komunikasi dengan Pak Shukri Edrus, penulis cerita anak dan ilustrator asal Malaysia. Tiba-tiba, kemarin saya dapat kiriman paket pos berisi tiga buku cerita karangan beliau yang dicetak ulang. Buku-buku tersebut berjudul 'Pak Pandir dengan Gergasi' (cetakan pertama tahun 1985), 'Sang Gedembai' (1987), 'Shakeel dengan Sita' (2015). Tahun 2015, terakhir kali kami berkomunikasi, Pak Shukri juga pernah mengirimkan saya dua kamishibai karyanya berjudul 'Alang Pipi Merah' dan 'Buluh Ajaib' yang baru saja terbit pada tahun itu. Kamishibai tersebut merupakan kamishibai pertama yang terbit di Malaysia. Jika dilihat dari informasi pada bukunya, buku-buku karangan beliau ini termasuk dalam kategori Folk Literature dan Children's Stories.

  Sang Gedembai (1987), Shakeel dengan Sita (2015), Pak Pandir dengan Gergasi (1985)

Kamishibai Buluh Ajaib dan Alang Pipi Merah (2015)

Saya berkenalan dengan beliau di acara Jakarta ASEAN Storytelling Festival yang diselenggarakan oleh KPBA (Kelompok Pencinta Bacaan Anak) tahun 2008. Acara itu dihadiri juga oleh para ilustrator dengan memamerkan karya-karyanya. Saya suka sekali lukisan/ilustrasi karya Pak Shukri karena simpel dan lucu. Selepas itu, kami bertukar alamat agar bisa berbagi cerita dan pengalaman seputar buku cerita, seni dan budaya lewat surat ataupun surel. Kami jadi berkawan. Beliau orangnya baik dan senang sekali bercerita. Sebelum menekuni profesinya yang sekarang, ia adalah pustakawan kanak-kanak di Perpustakaan Negara Malaysia. Tahun 2011, kami sempat bertemu kembali di Jakarta, waktu itu beliau bersama temannya sedang melakukan penelitian karya sastra Buya Hamka. Beliau pun membawakan saya beberapa buku cerita Malaysia dan buku cerita berbahasa Mandarin sebagai oleh-oleh.

Mengapa Adik? (Azizah binti Hamzah & Md. Shukri bin Edrus, 2010), Kisah Pak Kaduk (Shukri Edrus, 2010), Mimpi Raja Amir (Shariffah Norlaila Syed Alwi & Damas Wari, 2008). Damas Wari merupakan nama samaran/nama pena beliau

 Salah satu salinan karya Pak Shukri di majalah

Buku cerita Malaysia dan buku cerita India (terjemahan bahasa Malaysia) 

Kami beberapa kali saling bertukar buku cerita. Beliau mengirimkan beberapa buku karangannya dan buku cerita Malaysia. Begitu pun sebaliknya, saya mengirimkan buku cerita bergambar yang pernah saya ilustrasikan dan buku cerita Indonesia. Lewat buku-buku yang beliau kirim, saya jadi bisa sedikit belajar bahasa Malaysia. Bahasa yang digunakan dalam buku cerita tersebut tidak terlalu sulit karena hampir mirip dengan bahasa Indonesia, meski ada cukup banyak kata dalam bahasa Malaysia yang menurut saya aneh, lucu, dan tidak saya paham artinya. Saya menikmati ilustrasinya, buku-buku cerita ini pun menjadi panduan saya dalam menggambar.

Ternyata sudah lama saya tidak menulis karena kesibukan. Saatnya saya mulai kembali berkirim surat dan bertukar kabar dengan beliau. Terima kasih banyak atas buku-bukunya, Pak Shukri. Semoga terus cemerlang dan mari berkarya!

 Salah satu catatan kecil dari Pak Shukri Edrus

8 September 2017

Bingkai Baru Tapi Lama

Saya suka iseng membeli bingkai foto murah-meriah di toko buku atau toko swalayan dekat rumah. Saya suka bingkai sederhana. Kalau kira-kira ada yang saya suka, saya akan beli 2 atau 3 bingkai, setelah itu saya simpan dulu sampai ada foto atau gambar yang pas untuk dibingkai. Kemudian foto/gambar yang sudah dibingkai, saya pajang di dinding ruang gambar (ruang kerja) sebagai penyemangat kala bekerja. Jadi, di ruangan saya itu ada cukup banyak tumpukan bingkai baru yang masih terbungkus plastik dan bingkai bekas yang belum terpakai.

Ada saja niat untuk membingkai foto/gambar-gambar yang istimewa buat saya supaya bisa saya ingat terus atau yang bikin saya semangat berkreasi dan bekerja, atau karena gambarnya saya suka dan bagus untuk dijadikan penghias ruangan. Namun, kadang saya butuh suasana hati yang baik (mood) untuk mengerjakannya, kalau mood-nya sedang tidak ada ya tidak saya kerja-kerjakan sampai lebaran tahun kuda. Jadi harus dipaksakan. Sebetulnya, ruang gambar saya biasa saja, jauh dari kesan artistik. Selama ruangan bersih, nyaman, dan sedikit berantakan, saya pasti akan betah berlama-lama di sana.

Nah, pertengahan Agustus lalu saya punya keinginan membeli art print karya Neil Slorance yang rencananya akan saya pajang di ruang gambar. Selain suka sekali ilustrasi cat airnya, sudah lama juga saya ingin punya lagi ilustrasi karya dia. Lalu saya coba beli lewat toko Etsy-nya. Dari sekian banyak pilihan, terpilih tiga art print berukuran A5 yang paling saya suka. Waktu itu saya ngga kepikiran bingkai apa yang cocok untuk ketiga art print tersebut. Pokoknya dibeli dulu. Ini pertama kali saya membeli art print dari seorang seniman luar negeri, sebelumnya hampir lima tahun yang lalu saya punya art print dan ilustrasi asli karya Neil Slorance berkat menang kompetisi menggambar untuk ulang tahun blognya.

Paket tiba sekitar dua minggu diantar Pak Pos. Langsung saat itu juga ingin saya bingkai dan pajang gambar-gambarnya. Tiba-tiba saya ingat kalau saya punya tiga bingkai kayu warna-warni yang sudah lama sekali saya beli di Giant Supermarket dengan harga cukup murah dan belum terpakai sampai sekarang. Dua bingkai ukuran 6R dan satu bingkai ukuran 8R. Saya perhatikan warna ketiga bingkai itu serasi sekali dengan art print yang baru saya beli. Sempat sedikit sedih karena satu bingkainya tidak seukuran, cat di bagian sudut dan di belakang ketiga bingkai pun terkelupas saking lamanya saya simpan. Tapi setelah saya utak-atik dan coba pasang art print-nya, semuanya pas! Mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Jadi saya tidak perlu membeli bingkai baru lagi. :D

Bingkai baru tapi lama. Di belakang itu sebagian bingkai lama yang belum terpakai :P

Selalu ada secarik terima kasih ^.^

14 April 2017

#QOTD (5)

"Saya mengikuti pedoman Pak Tino Sidin di acara televisi beberapa puluh tahun yang lalu: yang penting adalah "gemar" menggambar, bukan "pintar" menggambar. Dengan kata lain: tak perlu susah payah untuk hebat, asal senang. Dan kalau salah gores dimaafkan sebelum lebaran." ~ Goenawan Mohamad

29 November 2016

Secarik Terima Kasih

Sudah sejak lama saya menyukai ilustrasi karya Neil Slorance. Belum lama ini saya mulai mengoleksi buku komik karangannya. Tidak semua hanya beberapa serial komik personalnya yang saya beli dari sini. Setiap komik pesanan saya itu tiba (meski cuma membeli satu), di dalam bukunya selalu terselip secarik kertas ucapan terima kasih yang ditulis langsung oleh Neil. Pada halaman judulnya pun tidak lupa dia bubuhi tanda tangan. Sebetulnya, ini sesuatu yang biasa saja karena dia juga melakukan hal yang sama kepada para pembeli sebagai bentuk terima kasih. Tetapi bagi penggemar karyanya yang tinggal di belahan dunia lain dan harus menunggu cukup lama hingga bukunya tiba, secarik kertas ini bisa menjadi istimewa dan sangat berkesan. ^_^





30 Mei 2016

10 Maret 2016

Sedikit Cerita Tentang GMT 2016

Kemarin, 9 Maret 2016, bangsa Indonesia sangat antusias menyambut gerhana matahari total (GMT). Begitu pula saya, berharap bisa kebagian melihat gerhana matahari dari rumah di kawasan Pondok Gede. Hehehe. Walau hanya ikut memantau lewat siaran langsung Kompas TV dan media sosial, saya benar-benar merinding dan kagum melihatnya. Apalagi warga yang mengalami langsung proses fenomena alam yang sungguh luar biasa dan amat indah ini. Pagi hari ketika terjadi GMT, sekitar pukul 07.20 WIB, di kawasan tempat saya tinggal kondisinya menjadi redup seperti menjelang sore hari. Ayam-ayam jago peliharaan yang tadinya berkokok sahut-sahutan tiba-tiba senyap dan tenang. Tidak lama kemudian, perlahan-lahan suasana menjadi terang kembali. Ayam-ayam jago ramai berkokok lagi. Setelah itu, saya dan keluarga bersama warga sekitar mengikuti shalat Kusuf (gerhana) berjamaah di masjid dekat rumah.

Membaca koran Kompas hari ini tentang warga yang antusias menyaksikan gerhana matahari total bikin saya gembira. Seperti di Balikpapan, ribuan warga memadati Pantai Maggar untuk menyaksikan GMT. Saat awal gerhana, warga bersorak-sorai, dan kian riuh saat sabit terbentuk. Puncaknya, saat GMT, warga bersorak, bertepuk tangan, dan memukul-mukul botol minuman. Wuiiih, kebayang deh bagaimana serunya suasana di sana ketika GMT. Ada pula seorang warga di Yogyakarta yang memanfaatkan peristiwa langka ini untuk menyerahkan cincin pertunangan dan melamar kekasihnya menjadi pasangan hidupnya. Belum lagi keriaan festival-festival kesenian yang diselenggarakan di daerah setempat untuk menyambut GMT 2016.

Mengutip koran Kompas hari ini tentang perkataan wakil presiden Yusuf Kalla yang turut mengikuti shalat gerhana sebelum memantau peristiwa GMT di lapangan kota Palu, kabupaten Sigi. Setelah menyaksikan proses GMT, beliau berkata, "Oh, indah sekali. Bagaimana kekuatan alam, bagaimana (kita) mengetahuinya, matahari yang (berjarak) 150 juta kilometer dan bagaimana bulan yang jaraknya lebih kurang 40 juta kilometer dapat diketahui posisi pas, betul-betul pas. Itu, kan, kebesaran Allah. Karena pengetahuan manusia, presisi, menitnya sudah diketahui, tahun dan di menit sekian terjadi di sini, dan itu benar."

Entah kenapa perkataan Pak Kalla itu bikin saya terharu. Karena saya tidak punya foto-foto GMT 2016, jadi saya foto saja salah satu buku cerita rakyat favorit saya dari Jawa Timur berjudul "Gerhana" yang diceritakan kembali oleh Suyadi (1932 - 2015), ilustrasinya juga digarap oleh beliau. Seniman dan ilustrator Indonesia yang saya kagumi. Saya beruntung bisa bertemu Pak Suyadi alias Pak Raden di suatu acara tentang ilustrasi di Jakarta dan meminta beliau menandatangani buku-buku cerita koleksi saya, yang sengaja saya bawa pada saat itu.






Beberapa hari sebelum peristiwa gerhana matahari, saya kembali membaca buku cerita ini. Warga tidak lagi takut dengan raksasa Kala Rahu yang konon memakan dan menelan benda-benda langit termasuk matahari sehingga terjadi gerhana dan bumi menjadi gelap gulita. Kini warga menyambut kedatangan gerhana dengan penuh syukur dan sukacita.

15 Januari 2016

#QOTD (3)

"Keep drawing, keep creating, keep living. Keep making the world beautiful and interesting." ~ Joann Sfar

13 Mei 2015

#QOTD (2)

"The relationship between Klee and myself is that we are both children who never stopped drawing." ~ Saul Steinberg

22 September 2014

Selamat Jalan, Pak Priyanto Sunarto (1947 - 2014)

Saya mulai mengenal dan bertemu Pak Pri pertama kali sewaktu semester akhir, mata kuliah Desain Komunikasi Visual V. Kala itu beliau menjadi dosen tamu di FSRD IKJ untuk memberi materi kuliah tahap-tahap membuat Tugas Akhir, baik berupa karya maupun skripsi. Sebelumnya saya sudah tahu nama beliau dan mengenal karya-karya kartunnya, yang biasa mencantumkan Pri-S di setiap gambarnya, lewat majalah TEMPO.

Ketika itu saya memilih skripsi sebagai Tugas Akhir, dan Pak Pri terpilih sebagai dosen pembimbing saya. Saya pikir bakal sulit asistensi ke Pak Pri karena beliau dosen tamu, tinggal di Bandung, cuma satu-dua minggu sekali datang memberi materi kuliah di kampus. Tidak bisa setiap saat bertemu beliau untuk berdiskusi soal TA. Akhirnya, kami (Pak Pri dan saya) sepakat untuk membahas proposal skripsi lewat email tiap minggu. Rintangan paling berat pada saat saya tengah menyusun skripsi adalah Papa saya meninggal karena penyakit yang sudah lama dideritanya. Tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan, saya terus lanjut menyusun skripsi supaya bisa lulus tepat waktu. Koreksi dan masukan di setiap bab oleh Pak Pri selalu saya tunggu di warnet dekat rumah. Sekali waktu saya sempatkan berkunjung naik kereta ke FSRD ITB bertemu beliau untuk asistensi. Meski hanya sebentar diajar dan dibimbing oleh Pak Pri, kenangannya sangat membekas buat saya. Beliau bukan hanya seorang guru tapi juga bapak sekaligus kawan bagi anak-anak didiknya. Beliau pun pribadi yang bersahaja, baik, dan lucu suka bercanda. 

Setelah dinyatakan lulus oleh para penguji sidang, saya jarang datang ke kampus lagi karena kesibukan. Sesekali ke kampus jika memang ada hal penting yang harus diurus di sana. Namun, saya berusaha terus menjalin silaturahmi dengan beberapa dosen saya. Bila hari raya atau pergantian tahun tiba, saya suka mengirim SMS ucapan selamat ke teman, saudara, dan guru. Ada satu balasan SMS dari Pak Pri yang masih saya simpan sampai sekarang (rasanya sayang untuk dihapus) di kotak masuk telepon genggam butut saya. "makasih Dian, sama2 maaf lahir batin dan slmat idul fitri 1431h, smoga memperoleh berkah berlimpah, ttp semangat n kreatif ya, amin wassalam_kel. priyanto-s (13/09/2010)". Hari Raya Idul Fitri tahun 2013 pun beliau masih sempat membalas SMS ucapan selamat Lebaran dari saya dengan, "masih menggambar kan?"

Hingga suatu hari, sekitar bulan Juli, tidak sengaja saya membaca kicauan seseorang di media sosial. Pak Pri S dosen FSRD ITB, butuh darah A, RS. Borromeus - Bandung, dikarenakan kondisi kesehatannya menurun. Saya hanya bisa bantu doa, berharap beliau baik-baik saja dan bisa lekas pulih. Selang beberapa bulan kemudian saya kembali mendapati kicauan berita duka wafatnya Bapak Priyanto Sunarto, dosen ITB dan kartunis TEMPO, di Bandung (Rabu, 17 September 2014). Saya benar-benar sedih. Sakali lagi, saya hanya bisa mengirimkan doa. Semoga seluruh amal ibadah baik beliau semasa hidupnya diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan selalu diberi ketabahan. Amin.

"Menggambar, terus menggambar, selalu menggambar." Selamat jalan, Pak Pri. Terima kasih banyak atas pengabdian, ilmu serta karyamu. Kini Bapak bisa kembali menggambar dengan damai tanpa ada rasa sakit.

20 September 2012

#QOTD (1)

"Think about the marks you want to make on the paper in front of you… the ones that bring you pleasure and satisfaction. You can’t control what other people think or if they’ll give you a job. You can only control your own actions and the work you produce. You have to be a little delusional to pursue a life in the arts, so throw caution to the wind and make pictures that excite you and hopefully the world will agree." ~ Jillian Tamaki

10 Februari 2012

Ke Perpustakaan CCF Salemba

Hayo, kapan terakhir kali ke perpustakaan? Yang bener-bener cari buku untuk referensi tulisan atau sekedar lihat buku yang bikin kalian penasaran? Kalau saya, dua minggu yang lalu setelah sekian lama ngga pernah ke perpus, hehe... Siang itu sepulang nganter kerjaan saya turun dari mikrolet 01 di Salemba pas depan CCF (Pusat Kebudayaan Prancis) buat nyambung lagi naik bus patas ke arah Pramuka. Tiba-tiba saya ingat ada buku cerita Prancis yang ingin sekali saya lihat, karena buku ini belum masuk ke Indonesia jadi cuma bisa ditemukan di perpus ccf.
Tanpa rencana saya langsung mampir ke sana. Ini pertama kalinya saya berkunjung ke ccf, padahal lumayan sering loh saya lewat depannya. Setelah bertanya ke petugas masuklah saya ke ruang perpus. Perpustakaan berlantai dua yang dibuka untuk umum ini cukup nyaman, rapi, banyak bule mondar-mandir. Waktu itu perpusnya sedang sepi, hanya ada dua siswa ccf yang lagi asik baca buku. Saya lihat rak bukunya, perhatikan buku-buku di bagian seni, bahasa, sastra, komik. Kayak orang ngerti bahasa Prancis padahal sih ngga ngerti sama sekali. Karena buku yang saya cari ngga ketemu akhirnya bertanyalah saya ke penjaga perpus. Lalu saya diajak ke rak buku bagian cerita anak dan di situlah saya menemukan buku yang saya cari, "Le Petit Nicolas" karya René Goscinny dan Jean-Jacques Sempé, dengan seri cukup lengkap.


Koleksi buku seri Le Petit Nicolas di Perpustakaan CCF Salemba. Beberapa seri lainnya sedang dipinjam

Le Petit Nicolas by Jean-Jacques Sempé

Sebetulnya, saya penasaran ingin lihat langsung ilustrasi Jean-Jacques Sempé di buku cerita Le Petit Nicolas. Dan saya menikmati ilustrasi hitam-putih di buku ini walau sama sekali ngga paham bahasa Prancis, hihi... Dari ilustrasinya udah kelihatan banget kalau karakter Nicolas ini bandel, suka ngisengin gurunya bareng teman-teman sekelasnya, pasti adaaaa aja anak yang berkelahi :))

Saat kuliah saya mulai suka karya-karya ilustrator Eropa, salah satunya Sempé. Garisnya yang tipis tapi kokoh, simpel namun tetap detil, sapuan cat airnya yang tipis, lembut, dan cerah. Begitu pun dengan ilustrasi pemandangannya, rasanya senang dilihat lama-lama. Pertama kali kenal ilustrasi Sempé di buku "Catherine Certitude" (versi English) yang dulu ngga sengaja saya beli di toko buku QB karena jatuh hati sama ilustrasinya. Dan ngga lama baru ngeh kalau Sempé adalah ilustrator & kartunis humor terkenal dari Prancis. Ia seangkatan dengan Quentin Blake, Raymond Savignac, atau Ronald Searle.


Catherine Certitude
Story by Patrick Modiano; illustration by Jean-Jacques Sempé; translated by William Rodarmor
(1988) 2001, David R. Godine, Publisher

Catherine Certitude by Jean-Jacques Sempé

Cerita Catherine Certitude ini manis banget, mengisahkan kilas balik kenangan masa kecil Catherine bersama ayahnya, Georges Certitude, saat ia masih tinggal di Paris. Mereka berdua berkaca mata, menyukai balet dan menghabiskan hari-harinya yang menyenangkan bersama: duduk-duduk di halaman gereja, mengantarkan Catherine ke sekolah, menghadiri kelas balet yang diikuti Catherine setiap hari Kamis siang. Entah kenapa, saya selalu tersentuh dengan kisah hubungan antara ayah dengan anak perempuannya. Saya suka sekali buku ini, baik ilustrasi maupun ceritanya, sejak itu saya mulai mencari buku cerita yang diilustrasikan Sempé tiap mampir ke toko buku impor.

Sampai suatu hari saya ngga sengaja nemu "Raoul Taburin Keeps a Secret" di Kinokuniya. Seneng banget berasa kayak nemu harta karun, soalnya buku karya Sempé sulit dan jarang di sini. Di buku ini Sempé sebagai penulis dan ilustrator. Karena harganya lumayan mahal jadi saya harus nabung dulu sebelum beli bukunya, hehe... Nah, setelah uangnya cukup, akhir bulan Desember lalu saya balik lagi ke Kinokuniya ternyata masih ada bukunya, ihiiiyy... masih jodoh! :))


Raoul Taburin Keeps a Secret
Story and illustration by Jean-Jacques Sempé; translated by Anthea Bell
(1995) 2010, Phaidon

Raoul Taburin by Jean-Jacques Sempé

Raoul Taburin sangat menyukai sepeda. Sepeda adalah hidupnya. Ia memiliki toko sekaligus bengkel sepeda yang cukup terkenal di kota kecil Saint-Céron, Prancis. Taburin tahu segalanya tentang sepeda: bagaimana cara memperbaiki ban bocor, rem, atau rantai sepeda yang rusak. Namun ada satu hal yang sama sekali tidak bisa ia lakukan dengan sepeda dan tidak ada seorang pun tahu tentang hal tersebut. Kisah persahabatan yang lucu sekaligus mengharukan antara Taburin dengan Hervé Figougne, seorang fotografer, di mana ia dilanda rasa malu, cemas, takut saat harus mengungkapkan 'rahasia besar'nya itu kepada sahabatnya. Buku terbitan Phaidon ini dikemas & didesain sangat bagus, saya suka sekali, rasanya bahagia lihat buku ini nangkring di rak buku saya :))

Ada beberapa buku Sempé yang ingin saya beli dan baca, tapi ya itu tadi, bukunya jarang dan lumayan mahal. Semoga aja nanti ada penerbit yang tertarik menerjemahkan & menerbitkan buku Le Petit Nicolas di sini. Buat mbak Mei, makasih udah merekomendasikan perpus ccf, sekarang ngga penasaran lagi sama ilustrasinya Sempé di buku Le Petit Nicolas :) Kayaknya saya bakal main ke sana lagi untuk lihat buku cerita Prancis lainnya. Oiya, kalian juga bisa baca review buku cerita yang diilustrasikan Sempé (versi French) di blognya mbak Mei. Berkat review buku Sempé yang ditulis mbak Mei saya bisa nyasar ke blognya :)

Wuiih panjang ya postingannya, hehe... Iya soalnya saya selalu bersemangat kalau ngebahas buku cerita bagus yang saya temukan. Janji besok akan posting gambar-gambar lagi! ;)