Tampilkan postingan dengan label Pensil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pensil. Tampilkan semua postingan
1 Januari 2018
21 Desember 2016
Kamishibai: Dokter Hama Sangat Sibuk
Judul: Dokter Hama Sangat Sibuk
Cerita: Murti Bunanta
Ilustrasi: Aldriana A. Amir
Penerbit: Yayasan Murti Bunanta, 2008
Saya kembali lagi membuat dummy kamishibai dari serial buku kecil karangan Ibu Murti Bunanta. Kali ini cerita diambil dari buku berjudul "Dokter Hama Sangat Sibuk". Mengisahkan kesibukan Dokter Hama. Mulai dari mengunjungi dan memeriksa si Dudu & si Didu yang sedang sakit batuk dan sering lupa minum obat. Rohan yang sakit panas dan panasnya tinggi sekali. Ada dua kucing kembar, si Tata dan si Tutu, sakit gigi karena mereka malas menggosok gigi. Lalu, si Manis yang kakinya tergores paku. Dokter Hama memang pandai, dapat mengobati berbagai penyakit. Banyak pasien menunggu giliran diperiksa Dokter Hama. Ia dibantu perawat Dahlia dan perawat Nori. Dokter Hama benar-benar sibuk, tetapi ia senang menolong.
Proses pengerjaannya masih sama seperti pembuatan dummy kamishibai sebelumnya. Untuk pembuatan ilustrasi, saya selalu mulai dengan coret-coretan/sketsa berdasarkan cerita. Setelah melalui beberapa perbaikan sketsa kemudian disetujui oleh Ibu Murti, selanjutnya masuk ke tahap outline dengan spidol/drawing pen, lalu proses pewarnaan di komputer. Sebenarnya, teknik dan media menggambar yang dipakai bisa bermacam-macam. Bisa manual, digital, atau campuran keduanya. Medianya pun begitu, bisa cat air, akrilik, krayon, tinta, dll., atau campuran dari berbagai media. Menurut saya yang terpenting adalah gambar bisa menyampaikan pesan/isi dari cerita.
Setelah itu, ilustrasi siap dicetak digital. Lapisi hasil cetakan dengan kertas duplex menggunakan double tape agar kamishibai tetap tegak dan kokoh dipegang ketika digunakan mendongeng. Jangan lupa tempel teks cerita di balik/di belakang kamishibainya. Bikin amplop (bisa pakai kertas duplex) sebagai tempat menyimpan kamishibai.
Ini kamishibai kelima yang saya bikin dari cerita-cerita karangan Ibu Murti. Mungkin akan menjadi seri terakhir yang saya gambar. Serial lainnya yaitu Tarian Pengusir Ular, Si Tomat Bisa Berkawan, Si Kecil Berjalan-jalan, dan Katak Ingin Bermain Sirkus. Meskipun belum dicetak dan masih berupa dummy sederhana, saya senang sekali mendengar kabar kalau dummy kamishibai tersebut telah digunakan mendongeng oleh Ibu Murti di sekolah. ^_^
7 September 2016
Menjawab Tantangan
Saya mendapat tantangan ngeblog dari Mbak Tirsa, untuk menjawab lima pertanyaan tentang menunggu. Baiklah, langsung saja saya jawab ya! :D
1. Di masa pra-gadget, apakah yang Anda lakukan ketika Anda menunggu sesuatu/seseorang?
Melihat-lihat suasana serta mengamati sekitar. Sebetulnya, dari dulu hingga sekarang ketika menunggu saya jarang sekali memainkan telepon seluler saya. Sesekali saya keluarkan dari tas untuk mengecek pesan yang masuk saja. Misalnya, ketika menunggu antrean di bank, saya senang mengamati orang-orang yang berada di sana. Mengamati satpamnya, teller-nya, orang-orang yang mengantre di depan saya, mencuri dengar obrolan mereka, mengamati seseorang yang juga sedang mengamati orang lain. Saya kerap membuat jalan cerita dalam pikiran saya tentang orang-orang/sesuatu yang sedang saya amati itu.
Misalnya lagi, ketika menunggu antrean berobat di dokter, biasanya saya bertanya dapat nomor antrean berapa ke pasien yang kebetulan sudah lebih dulu duduk menunggu di sebelah saya. Saya ajak ngobrol sedikit jika orangnya kelihatan ramah. Atau kalau bingung mau ngobrol apa dan dengan siapa, saya diam saja mengamati keadaan ruang tunggu, sambil melihat suasana di luar melalui jendela, mengamati warna tirai jendela, lampu dan langit-langit ruangan, tanaman yang ada di sana, gambar/poster di dinding ruangan, dan melipat-lipat kertas nomor antrean saya mejadi perahu kertas.
2. Apakah acara TVRI yang Anda tunggu-tunggu semasa kecil dulu? Mengapa acara itu Anda tunggu?
Si Unyil! Saya, kakak, dan adik pasti akur sekali kalau sedang menonton Unyil. Ceritanya bagus, karakternya dekat dengan keseharian kita. Sewaktu kecil, saya juga menunggu acara Gemar Menggambar yang dipandu oleh Pak Tino Sidin. Kalau tidak salah, acaranya tayang setiap Minggu sore. Sehabis mandi sore, saya pasti menunggu acara beliau di depan tv, siap dengan buku gambar dan pensil warna seadanya. Saya bakal anteng sendirian di depan tv, menunggu sambil menebak-nebak gambar apa yang dibikin oleh Pak Tino Sidin, setelah itu saya ikut menggambar dengan tahap-tahap gambar yang diajarkan beliau. Karena kesukaan saya menggambar, papa saya membelikan serial buku Gemar Menggambar karangan Pak Tino Sidin.
3. Apakah Anda pernah menunggu tukang jajanan tertentu? Apakah jajanannya dan mengapa Anda menunggunya?
Pernah. Di kompleks rumah suka ada abang jajanan lewat, tapi saya tidak begitu suka jajan. Saya lebih suka makan makanan bikinan sendiri atau masakan mama saya di rumah. Sesekali, ada kalanya sih saya kepingin makan makanan bikinan abang-abang. Kayak Ketoprak dan Sate Padang. Waktu itu lagi pingin banget makan kedua makanan tersebut. Sayang, si abang sate langganan ngga lewat-lewat depan rumah. :((
4. Pernakah menunggu seseorang lalu orangnya tidak muncul? Jika pernah, bagaimana reaksi Anda kepada dia selanjutnya?
Pernah. Tapi sebalnya langsung hilang kok setelah besoknya kami bertemu dan dia minta maaf sambil bawa es krim buat saya. :))
5. Apakah Anda pernah menunggui seseorang di rumah sakit? Siapa? Dan kenapa?
Pernah. Papa. Komplikasi karena sakit gula. Hampir sebulan lamanya, bergantian dengan mama, kakak, dan adik, menunggui papa di rumah sakit. Mulai dari masuk UGD, rawat inap, sampai ICU. Waktu itu saya masih kuliah semester akhir dan kebetulan jadwal kuliah saya hanya dua hari, jadi saya punya lebih banyak waktu menemani mama sambil menunggui papa di sana. Bersyukur sekali sewaktu menunggui papa, saya masih bisa menyuapi makanan dan buah jeruk ke papa, mengurut kakinya yang pegal-pegal, menunggui dan melihat beliau mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang di ruang ICU. Setelah semuanya berakhir, saya sempat trauma ke rumah sakit.
Yak, selesai! Makasih Mbak Tirsa buat tantangan ngeblognya. Hahaha. Saya jadi punya cerita buat ditulis di sini, deh. :))
23 Juli 2016
Kamishibai: Katak Ingin Bermain Sirkus
Judul: Katak Ingin Bermain Sirkus
Cerita: Murti Bunanta
Ilustrasi: Aldriana A. Amir
Penerbit: Yayasan Murti Bunanta, 2008
Dua bulan lalu saya kembali membuat dummy kamishibai dari buku cerita kecil karangan Ibu Murti, berjudul "Katak Ingin Bermain Sirkus". Cerita sederhana mengisahkan sekumpulan katak yang merasa pandai melompat, berenang, dan menyanyi namun tidak ada yang mengajak mereka bermain sirkus. Mulailah mereka berlatih melompat dari satu daun ke daun lainnya, dari dahan rendah ke dahan paling tinggi. Segala upaya dilakukan agar bisa terbang sambil melakukan atraksi di udara. Berhasilkah sekumpulan katak tersebut terbang? Dan adakah yang mengajaknya bermain sirkus?
19 Februari 2016
Ilustrasi Kalender Owa Jawa 2016
Oktober lalu saya kembali bekerja sama dengan Ayu. Masih tentang owa jawa. Kali ini ilustrasi akan dijadikan sebagai kalender dinding berukuran A3. Mulanya, saya coba menuangkan konsep gambar yang diinginkan Ayu ke dalam coret-coretan/sketsa kasar. Kemudian lanjut ke tahap pembuatan ilustrasi. Proses pengerjaannya sekitar seminggu, melalui beberapa kali edit dan diskusi dengan Ayu via email. Setelah gambar jadi, desain dan tata letak diserahkan sepenuhnya ke Ayu. Menurut Ayu, rencananya kalender akan diberikan ke beberapa SD di sekitar Halimun, sebagai bagian penelitian Ayu dalam program kampanye mengenai owa jawa pada Februari 2016.
Nah, tiga hari sebelum libur Imlek kemarin, saya dapat kabar dari Ayu kalau kalendernya sudah jadi. Ayu mau mengirimkan beberapa kalendernya buat kenang-kenangan serta bukti kalau gambarnya memang dicetak dan dijadikan kalender. Saya seneng banget, penasaran sama hasilnya. Sehari setelah libur Imlek, kiriman paket dari Ayu datang. Deg-degan, setelah dibuka paketnya saya langsung ketawa sendiri. Hasil cetakan & desainnya bagus! Ternyata ada sedikit perubahan pada gambarnya yang membuat tata letak tanggalnya menjadi rapi dan teratur, saya suka. Kata Ayu, tadinya dia mau buat font (huruf) kalendernya lebih besar tapi ngga tega nge-crop gambarnya. Hahaha. Makasih, Ayu! :D Karena dikirimi cukup banyak, jadi sebagian kalender saya bagi-bagikan ke sepupu-sepupu yang masih SD, juga ke adik saya buat ditempel di kelas tempat dia mengajar. Hihihi.
Kalendernya pun terpajang manis di ruang gambar saya. Si owa jawa dan teman-temannya bakal menemani saya menggambar selama sebelas bulan penuh!
Terima kasih banyak, Ayu! Senang sekali bisa menggambar buat kegiatan ini lagi. Semoga adik-adik di sana suka kalendernya dan tambah sayang sama owa jawa dan satwa lainnya. ^_^
Sketsa awal
Ilustrasi kalender A3
Nah, tiga hari sebelum libur Imlek kemarin, saya dapat kabar dari Ayu kalau kalendernya sudah jadi. Ayu mau mengirimkan beberapa kalendernya buat kenang-kenangan serta bukti kalau gambarnya memang dicetak dan dijadikan kalender. Saya seneng banget, penasaran sama hasilnya. Sehari setelah libur Imlek, kiriman paket dari Ayu datang. Deg-degan, setelah dibuka paketnya saya langsung ketawa sendiri. Hasil cetakan & desainnya bagus! Ternyata ada sedikit perubahan pada gambarnya yang membuat tata letak tanggalnya menjadi rapi dan teratur, saya suka. Kata Ayu, tadinya dia mau buat font (huruf) kalendernya lebih besar tapi ngga tega nge-crop gambarnya. Hahaha. Makasih, Ayu! :D Karena dikirimi cukup banyak, jadi sebagian kalender saya bagi-bagikan ke sepupu-sepupu yang masih SD, juga ke adik saya buat ditempel di kelas tempat dia mengajar. Hihihi.
Ibu guru Alvina dan murid kelas 2-nya, SDN Cipinang Muara 06 Pagi, Jakarta Timur
(FOTO: Alvina A.)
Kalendernya pun terpajang manis di ruang gambar saya. Si owa jawa dan teman-temannya bakal menemani saya menggambar selama sebelas bulan penuh!
27 Januari 2016
10 Desember 2015
Roller Coaster Journey
"After all this time?" "Always"
Ini keempat kalinya saya menggambar untuk Erlia. Dan selalu gembira setiap menggambar keluarga kecilnya. Seru dan kocak! Ada aja idenya yang mendadak minta digambarin pakai roller coaster. Soalnya selain suka banget sama Harry Potter, Erlia juga suka naik roller coaster. Idenya Erlia unik dan mudah buat saya ngebayangin gambarnya. Meski gambarnya baru siap beberapa hari menjelang hari H, saya seneng banget akhirnya bisa menyelesaikan gambar ringkasan perjalanan hidupnya bersama sang suami tercinta dalam versi kartun buat kado ulang tahun pernikahannya.
Terima kasih banyak Erlia atas kepercayaannya bikin-bikin gambar ke saya. Sekali lagi, selamat ulang tahun perkawinan yang ke-10!! Selalu bahagia dan akur terus sampai kakek-nenek. Amin. ^^
16 Agustus 2015
Maleo, Si Sederhana nan Unik
Foto burung maleo di atas saya ambil sekitar bulan Mei lalu sewaktu berkunjung ke Kebun Binatang Ragunan. Selain di sana, sepasang maleo juga bisa kita lihat di Taman Burung di Taman Mini Indonesia Indah. Maleo merupakan satwa endemik pulau Sulawesi yang terancam punah. Meski penampilannya sederhana, dia punya banyak keunikan. Burung yang memiliki jambul/tonjolan keras di kepalanya ini lebih senang berjalan kaki dan sangat setia pada pasangannya. Badannya kurang lebih sebesar ayam kampung. Ukuran telurnya lima kali lebih besar dari telur ayam. Ketika bertelur maleo betina hanya menghasilkan satu butir telur saja. Kabarnya setelah bertelur sang betina langsung jatuh pingsan. Maleo tidak mengeramkan telurnya melainkan menguburkan telurnya di bawah pasir.
Sebelumnya saya cuma mendengar namanya saja, melihat wujudnya sama sekali belum pernah. Sampai suatu ketika, saya dapat tugas membuat ilustrasi buku tentang satwa khas Indonesia. Dan maleo masuk di dalamnya. Kemudian saya mulai mengumpulkan informasi tentang burung ini lewat internet dan buku. Lalu, saya pergi ke Taman Burung dan Kebun Binatang Ragunan untuk mengamati dan melihat lebih dekat wujud maleo. Setelah itu baru bikin sketsanya. Agak ribet memang, tapi proses seperti ini yang paling saya suka ketika menggambar. Mencari referensi dan mengumpulkan data, lalu membuat sketsa dan menggambarnya. Jadi setiap kali melihat maleo di Kebun Binatang Ragunan atau di Taman Burung, saya selalu ingat pengalaman saat menggambarnya. Sketsanya pun masih saya simpan hingga sekarang.
Sketsa burung maleo, pensil warna di kertas A4, tahun 2005
Bila teman-teman berkunjung ke Taman Burung di TMII atau Kebun Binatang Ragunan di Jakarta, jangan lupa melihat dan menyapa maleo ya. ^_^
27 Juni 2015
Satu Sore Bersama Dokter Vicka
Kali ini saya membuat janji bertemu dengan dokter bukan untuk berobat tapi untuk ngobrol-ngobrol santai di suatu kedai kopi di Jakarta. Dokter Vicka Farah Diba adalah dokter spesialis anak yang saat ini bertugas di rumah sakit di Pekanbaru, Riau. Kami berkenalan lewat email. Kala itu dr. Vicka sedang mencari ilustrator untuk menggarap ilustrasi kumpulan cerpennya yang kerap ditayangkan di dokteranakku.net. Dr. Vicka sangat suka menulis dan punya minat besar pada cerita anak. Kami cukup sering menjalin komunikasi lewat email, membicarakan tentang buku anak. Karena tidak puas hanya ngobrol lewat email, saya mengajaknya bertemu bila ada kesempatan ke Jakarta. Dan beliau menyambut baik ajakan saya.
Awal bulan Juni, saya dapat kabar dari dr. Vicka kalau ia sedang ada urusan di RSCM, Jakarta. Kami pun membuat janji untuk bertemu esok sorenya di Taman Ismail Marzuki. Kebetulan TIM cukup dekat dari RSCM dan saya memang berniat ingin mengajak sang dokter jalan-jalan ke TIM, tempat andalan saya kalau mau bertemu seseorang. Hahaha.
Sekitar pukul lima saya tiba di sana. Saya duduk menunggu kedatangan dr. Vicka di depan TIM, dekat patung Ismail Marzuki. Tidak lama kemudian beliau datang. Kami akhirnya bertemu muka untuk pertama kalinya disaksikan oleh patung Pak Ismail. Hihihi. Sebelum menuju ke kedai kopi untuk mengobrol, saya mengajak dr. Vicka berjalan-jalan dulu keliling TIM. Sudah lama sekali saya ngga main-main ke sana. Terakhir kali ke TIM juga untuk bertemu teman blogger.
Sore itu cerah dan suasana di TIM lumayan ramai. Kami berjalan ke Galeri Cipta II, Cinema XXI, melihat sekilas kegiatan anak-anak yang sedang berlatih menari bali di teras Graha Bhakti Budaya, mampir ke Galeri Buku Bengkel Deklamasi, melihat dari jauh gedung Teater Jakarta dan Planetarium. Kami juga berkunjung sebentar ke Institut Kesenian Jakarta. Ternyata gedung kampusnya sudah bagus. Kami keliling kampus, mulai dari FFTV, Fakultas Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Musik, dan FSRD. Saat itu sedang ada acara open house. Jadi kami beruntung bisa masuk ke studio lukis dan studio patung, melihat-lihat lukisan karya mahasiswa IKJ. Di studio lukis saya lihat ada Mas Adjie dan Mas Dick, dosen seni lukis, yang sedang sibuk di ruangannya. Saya juga sempat berpapasan dengan dosen kriya keramik, Ibu Lydia Poetrie. Beliau masih seperti dulu, gayanya simpel namun tetap cantik. Ah, saya jadi rindu kuliah.
Setelah puas keliling IKJ, kami langsung menuju ke Kedai Tjikini. Selama berjalan kaki ke sana, saya mengamati kalau toko sekaligus pabrik roti klasik 'Tan Ek Tjoan' di Cikini sudah tidak ada lagi *sedih*. Sampailah di Kedai Tjikini. Kami memilih ruangan non-smoking di lantai dua. Suasana ruangannya nyaman dan sepi, membuat obrolan ringan kami semakin syahdu. Saya menikmati iced latte cappuccino sambil menemani dr. Vicka menghabiskan puding keju karamelnya, kami bertukar cerita tentang kegiatan sehari-hari. Dokter penyuka warna pink ini bercerita bagaimana ia menghadapi pasien anak-anak yang takut dengan dokter, keinginannya membuat buku anak, sampai hobinya menulis dan jalan-jalan. Keasyikkan ngobrol sampai ngga terasa hari sudah gelap. Sebagai kenang-kenangan saya memberinya beberapa kartu pos bikinan saya. Seusai menunaikan salat maghrib di musholla Kedai Tjikini, kami menyudahi obrolan dan kembali berjalan ke TIM untuk berpisah di sana.
Satu sore yang menyenangkan. Saya ngga pernah kepikiran bakal punya teman seorang dokter. Profesi yang sungguh jauh dari bidang yang saya geluti. Sekitar seminggu setelah pertemuan itu, saya menerima paket kecil via pos berisi dua suvenir tempelan kulkas lucu bertuliskan I love Riau dan bergambar orang utan, Balikpapan - Kalimantan Timur. Makasih, Dokter Vicka. Sampai bertemu lagi kapan-kapan ya! ^_^
11 April 2015
Serunya revisi dan diburu deadline
Ukuran 32,5 x 30 cm. Drawing pen dan cat air
Sketsa
Meski masih ada kekurangan, proses pembuatannya sangat menyenangkan dan seru karena diburu deadline. Ditugasi bikin ilustrasi ini saya jadi menggambar pakai cat air lagi. Dan itu sangat menyenangkan. Sebelum mulai menggambar, saya bongkar-bongkar kotak penyimpanan perlengkapan gambar. Berharap cat air yang lama saya simpan ngga mengeras. Dan berdoa supaya masih tersisa kertas cat air di dalam map kertas gambar. Alhamdulillah, kertasnya ada walau cuma satu setengah lembar. Cat air juga masih bisa digunakan walau tube-nya mesti benar-benar saya pencet. Seneng dong karena saya bisa menghemat waktu & biaya dengan tidak perlu pergi ke toko buku.
Setelah gambar siap, lalu gambar di-scan, kemudian file gambar di-email. Langsung saat itu juga saya dapat balasan email, kalau gambar tidak bisa dipakai, harus segera diperbaiki ulang karena salah. Deadline pun semakin mepet. Huhuhu. Syukurlah, mas dan mbaknya sabar, saya diberi sedikit waktu beberapa jam lagi. Akhirnya, saya berhasil memperbaiki ulang gambarnya pada hari itu juga. Legaaaa. :))
Alternatif ilustrasi. Spidol dan komputer
Kalau diingat kembali pengalaman bikin ilustrasi ini seru banget. Jadi teringat masa-masa bikin tugas kuliah dulu. Kayaknya mulai sekarang saya mesti sering-sering menggambar pakai cat air. Dan lebih teliti lagi membaca ukuran gambar. Hehehe.
PS. Saya gembira sekali mendapat kabar via email dari beberapa teman kalau kartu posnya telah tiba selamat dan diterima dengan baik. Makasih banyak kabarnya ya! :D
26 Februari 2015
Langganan:
Postingan (Atom)



















































