30 Desember 2015

Kartu Pos Sepanjang Tahun 2015


Tulisan tangan, prangko, dan cap pos adalah tiga hal yang paling saya suka dari surat/kartu pos. Saya tidak terlalu mempersoalkan foto atau gambar yang terdapat di sisi muka kartu pos. Foto atau gambar apa pun pasti saya akan suka. Saya biasa memajang kartu pos yang berkesan di meja gambar. Sebagian besar lagi saya simpan rapi dalam clear holder. Sama seperti memajang kartu pos di meja gambar, di dalam clear holder pun saya menyimpan dan menaruh semua kartu pos dengan posisi bagian yang bertuliskan tangan dan tertempel prangko menghadap ke atas. Jadi saya bisa langsung melihat tulisan tangan teman-teman di sana. Saya suka sekali mengamati tulisan tangan seseorang. Makin unik tulisan tangannya, saya semakin suka. Sayangnya, saya belum bisa membaca karakter seseorang lewat tulisan tangannya.

Senang sekali di sepanjang tahun 2015 saya masih menerima kartu pos dari kenalan teman blogger yang baru maupun lama. Ada beberapa kartu pos merupakan hasil kreasi mereka sendiri. Sedihnya, ada pula kartu pos yang tidak sampai. Itulah serunya mengirim sesuatu via pos (berprangko tanpa nomor resi pengiriman) karena hanya Tuhan dan Pak Pos yang tahu kapan sampainya. Bisa jadi malah tidak sampai sama sekali.

Baiklah. Yuk, kita lihat satu-satu kartu posnya! :D

Tirsa - Michigan, United State of America
Kartu pos di awal tahun 2015 datang dari mbak Tirsa. Di kartu pos ini dia menuliskan satu kutipan dari Austin Kleon. "The Artist is a collector. Not a hoarder, mind you, there's a difference: hoarders collect indiscriminately, artists collect selectively. They only collect things that they really love." Kutipan ini bisa jadi penyemangat ketika mengoleksi sesuatu yang sangat kita sukai. Kleon adalah seniman & penulis yang juga menggambar. "Steal Like an Artist" dan "Show Your Work!" adalah buku karangannya yang cukup terkenal. 

Andine - United Kingdom
Sebetulnya ini kartu pos kedua yang dikirim Andine. Kartu pos pertama dikirim ketika dia sedang liburan ke Chicago (USA), sayangnya kartu pos itu tidak pernah sampai. Andine menulis, kartu pos ini dari pameran kecil Alan Kitching di kantor koran ternama di Inggris, The Guardian. Kitching adalah seniman & desainer yang banyak bermain tipografi dengan teknik screen printing. Saya jadi mencari tahu tentang Kitching lewat google. Karya-karyanya sangat playful dan colorful. Berkat kartu pos ini pengetahuan saya tentang seniman & desainer tipografi di luar sana jadi bertambah. :D

Rizka - Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia
Kartu pos balasan yang diilustrasikan oleh Icha berhasil bikin saya senyum seharian. Icha menulis, kartu pos bergambar mini cooper & robot mini ini khusus dibikin buat saya. Saya tidak ingat kapan terakhir kali seseorang meluangkan waktunya menggambar buat saya, jadi kartu ini sangat berkesan. Ini kartu pos pertama saya bergambar mini cooper. Saya dan Icha sudah cukup lama berteman lewat blog, hanya saja belum pernah bertemu muka. Kami punya kesukaan yang sama, suka menggambar dan mobil klasik. Selain menulis curahan isi hatinya dan cerita manis tentang kucing-kucingnya, Icha juga menampilkan karya ilustrasi dan gambar komiknya di blog.

Andine - South Wales, United Kingdom
Kartu pos bergambar Kastil Caerphilly dikirim Andine saat jalan-jalan ke South Wales dan mengunjungi beberapa kastil di sana. Menurut cerita yang ditulis Andine di blognya, kastil abad pertengahan dari abad ke-13 ini merupakan kastil terbesar kedua di Inggris.

Endang - Rawamangun, Jakarta Timur, Indonesia
Kartu pos lucu ini pas sekali tiba di hari pertama puasa dan merupakan kartu pos pertama yang digambar serta dibikin oleh Endang untuk membalas kartu pos dari saya. Senang juga ada beberapa teman yang mau membalas kartu pos saya. Hehehe. Endang bercerita, kartu pos ini tentang Rampak Bedung, kesenian khas Pandeglang - Banten, provinsi tempat Endang berasal. Pada awalnya Rampak Bedug dimainkan untuk menyambut bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Kini Rampak Bedug kerap dipentaskan di festival-festival seni dan budaya.

Tirsa - Quebec, Canada
Kartu pos cantik ini tiba di pertengahan bulan Agustus. Oleh-oleh dari mbak Tirsa yang ketika itu sedang jalan-jalan bersama keluarganya ke Kanada, sekitar 10 jam menyetir kendaraan sendiri dari rumahnya. Mbak Tirsa menulis, warga Quebec berkomunikasi dalam dua bahasa yaitu bahasa Prancis dan Inggris. Kotanya pun bergaya Prancis.

Froggy - Brussels, Belgium
Kangen juga lama tidak menerima kartu pos dari teman kodok. Tiba-tiba suatu siang datang satu kartu pos dari Belgia. Ternyata dari Froggy yang saat itu sedang berada di Brussel. Froggy menulis, udara di Brussel sudah mulai dingin, dan dia sudah lama tidak kirim kartu pos karena buku catatan kecilnya yang berisi alamat selalu ketinggalan. Ah, seneng dapat kartu pos dari Froggy lagi! :)

Yenni - Solo, Jawa Tengah, Indonesia
Kartu pos balasan datang dari seorang teman di dunia maya yang berprofesi sebagai editor buku anak. Ini pertama kali Yenni kirim kartu pos. Dia sempat kesulitan mencari kartu pos, namun akhirnya ketemu juga di kantor pos dengan kartu pos resmi produksi Pos Indonesia. Supaya kartu posnya tidak terlalu sepi, Yenni menggambar seekor kucing belang lucu dari buku menggambar yang pernah dia edit. :))

Terima kasih banyak, Teman-teman! Kartu posnya pasti saya simpan baik-baik dan tentu akan jadi kenangan manis buat saya. Terima kasih juga buat Pak Pos kesayangan yang mengantarkan kartu-kartu pos ini. ^_^

6 komentar:

  1. waaa... kartu pos kirimanku. *duh malu*
    senang bisa dimasukkan ke postingan ini. makasih banyak mbak Dian :)
    kapan2 aku kirim lagi boleh ya. heheh

    BalasHapus
  2. Waaah!! Aku seneng banget mbak suka! Sayangnya udah mule pudar yak. Aku udah janji mau ngeprint lagi yg bagusan buat mbak ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, iya tapi ga apa-apa kok, Icha :)

      Hapus
  3. >< jadi kepengen snailmail-an lagi. tapi kantor pos sekarang mahal :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi kangen masa2 ketika ngirim surat/kartu pos ke luar negeri perangkonya cuma rp.2500,- Sekitar tahun 1995-1997 :D

      Hapus