29 Februari 2016

Kolom Bahasa Kompas


Saya suka baca kolom Bahasa di koran Kompas. Saking sukanya sama artikel yang terbit 30 Januari 2016, berjudul "Bahasa Tanpa Budi" ditulis oleh Samsudin Berlian, artikelnya saya gunting lalu saya simpan dan selipkan di buku notes. Supaya bisa dibaca ulang dan jadi pengingat serta motivasi buat saya untuk terus berbahasa dengan baik dan sopan, yang seharusnya juga tercermin dari tingkah laku. Kolom yang terletak pada halaman Pendidikan & Kebudayaan dan tayang setiap Sabtu ini berisi tulisan pendek nan ringan seputar bahasa Indonesia, namun dibahas sangat menarik, menggelitik, kadang sedikit menyindir. Beragam topik dibahas. Seperti kosakata, asal-usul suatu kata (etimologi), istilah dan makna suatu kata (sematik), sosiolinguistik, kiasan, awalan & akhiran, dan masih banyak lagi. Makin diikuti topiknya, semakin indah dan kaya bahasa Indonesia. André Möller, Samsudin Berlian, Sori Siregar adalah beberapa nama yang kerap menghiasi kolom tersebut.

Membaca kolom Bahasa, saya merasa seperti kembali mengikuti pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Jadi teringat guru-guru bahasa Indonesia saya. Saya mulai benar-benar menyukai pelajaran bahasa Indonesia sewaktu kelas 2 SMA, diajar oleh Ibu Sri Suratmi. Beliau asyik dan detail sekali ketika menerangkan pelajaran. Lanjut kuliah, dosen bahasa Indonesianya cantik, namanya Ibu Pricillia. Cara beliau mengajar juga asyik. Kami, para mahasiswa, ditugaskan membuat karya tulis bertema seni rupa untuk tugas akhirnya. Walau cuma belajar satu semester sebagai mata kuliah umum, saya tetap suka pelajarannya. Sekarang belajar apa pun bisa dari mana saja, termasuk belajar Bahasa. Saya suka Bahasa, meski dari dulu merasa kemampuan bahasa (lisan & tulisan) saya biasa-biasa saja. Bisa menuliskan kata-kata yang sedang saya pikirkan menjadi sebuah cerita di blog ini saja sudah suatu prestasi buat saya. :))

Balik lagi ke artikel "Bahasa Tanpa Budi". Karena suka sekali sama topik yang ditulis oleh Samsudin Berlian ini, berikut saya kutip beberapa kalimat yang menurut saya bagus.
"Di zaman leluhur, budi adalah bahasa dan bahasa adalah budi." 
"Tingkah laku itulah budi. Tutur kata itulah bahasa." 
"Kebiasaan bahasa mustahil disembunyikan dan sulit dipalsukan. Di dunia lama bergeografi sempit, logat dan gaya bahasa mencerminkan asal-usul dan pengasuhan seseorang."
"Begitu seseorang bicara, seketika itulah bisa ditentukan apakah dia kawan atau lawan, hati lurus atau lidah bercabang. Begitu bahasa terucap, budi pun telanjang."
"Sebagai cita-cita, semakin halus bahasa, tinggi ilmu, dan dalam agama, semakin berpekerti. Dalam kenyataan, tentu saja banyak juga, selain yang baik-baik, orang dan pejabat tinggi penuh sopan-santun bernama Budi bertingkah laknat." 
"Modernisasi kehidupan dan spesialisasi pengetahuan serta perluasan geografi telah membongkar bobrok perkawinan itu. Budi dan bahasa sudah jarang terlihat jalan bersama. Baik dan sopan tak gandeng tangan. Cita-cita bahasa adalah fasih, bukan kasih. Ilmu tidak mengandaikan moral. Pada diri satu orang bisa tercapai prestasi tinggi sarjana dan durjana. Ulama belum tentu alim. Pelantun ayat-ayat surga mungkin berhati busuk aroma neraka."
"Budi sudah lama merantau tanpa kabar. Semakin maju ilmu bahasa, semakin kuat lembaga agama, dan semakin canggih perkakas teknologi, semakin redup pula Budhhi, sang terang pencerahan."
"Tidak lagi berlaku dengan sendirinya bahwa bahasa halus adalah budi luhur; bahasa kasar adalah budi awur. Kini budi butuh bukti lebih nyata daripada bahasa. Si sinis mencibir, jangan omdo."
*Omdo = Omong doang.

Koleksi artikel tentang bahasa Indonesia yang terbit di berbagai media massa di Tanah Air bisa ditengok di rubrikbahasa.wordpress.com. "Bahasa Tanpa Budi" sepertinya juga bakal muncul di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar